Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  News

Ketika Sawah Mulai Hijau Kembali Setelah Bencana Berlalu, Harapan Petani Bangkit Lagi

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Ketika Sawah Mulai Hijau Kembali Setelah Bencana Berlalu, Harapan Petani Bangkit Lagi
Foto: (Sumber: Sejumlah petani, Sabtu (24/1/2026), menanam padi di area persawahan yang terdampak bencana banjir bandang di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Aceh. (ANTARA/FB Anggoro).)

Pantau - Setelah diterjang bencana banjir bandang akhir November 2025, para petani di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mulai kembali bercocok tanam melalui program rehabilitasi sawah yang diluncurkan pemerintah.

Duka Petani Pascabencana dan Upaya Pemulihan

Ishak, petani di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, masih mengingat jelas saat banjir bandang menimbun sawahnya dengan lumpur.

Begitu banjir surut, ia langsung berjalan kaki ke sawah yang sebelumnya siap panen lima hari lagi, namun kini berubah jadi hamparan lumpur.

“Menangis saya. Lima hari lagi sawah mau saya panen, banjir datang,” ungkapnya.

Sawah, jalan, dan saluran irigasi yang dulu tertata rapi kini hanya menyisakan tanggul beton besar.

Bencana hidrometeorologi itu merusak hampir seluruh aspek kehidupan warga, termasuk sumber penghidupan petani.

Menurut data Kementerian Pertanian, total kerusakan sawah akibat bencana di Sumatera mencapai 98.002 hektare.

Rinciannya: Aceh 54.233 hektare di 21 kabupaten/kota, Sumatera Utara 37.318 hektare di 15 kabupaten/kota, dan Sumatera Barat 6.451 hektare di 14 kabupaten/kota.

Ishak biasa menggarap sawah seluas 23 rante atau 9.200 meter persegi, dengan hasil rata-rata 2,5 ton gabah kering giling per panen.

Saat itu harga gabah mencapai Rp6.000 per kilogram, namun harapannya sirna karena banjir menghancurkan seluruh lahan.

Program Rehabilitasi Sawah dan Kembali Menata Hidup

Pada pertengahan Januari 2026, pemerintah melalui Kementerian Pertanian meluncurkan Program Rehabilitasi Lahan Sawah Pascabencana Hidrometeorologi Sumatera.

Presiden Prabowo Subianto memerintahkan agar program dijalankan secara padat karya agar petani tetap mendapat penghasilan selama masa pemulihan.

Pemerintah menanggung seluruh biaya rehabilitasi, termasuk pengerahan alat berat untuk perbaikan irigasi dan lahan sawah.

Rehabilitasi dimulai dari sawah dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang: Aceh 6.530 hektare, Sumatera Utara 6.593 hektare, dan Sumatera Barat 3.624 hektare.

Total area rehabilitasi mencapai 13.708 hektare dan ditargetkan rampung pada Januari–Februari 2026.

Di Desa Pinto Makmur, air irigasi kembali mengalir dan petani mulai menggarap lahan.

Ishak dan anak lelakinya membentuk pematang sawah dengan pacul kayu secara manual, meski lumpur sisa banjir setinggi satu meter sangat menyulitkan.

“Dulu sebelum banjir, lumpur di sawah hanya sebetis kaki. Tapi sekarang setinggi perut saya,” ujar Ishak.

Ia merasa lega karena biaya rehabilitasi ditanggung pemerintah, sehingga ia dapat mempekerjakan lebih banyak buruh tani.

Upah buruh juga naik dari Rp50 ribu menjadi Rp60 ribu per orang untuk kerja setengah hari.

“Pemerintah menjanjikan pekerja akan dibayar. Kalau sudah selesai kerja harus difoto sebagai buktinya,” katanya.

Harapan Baru di Tengah Lumpur dan Bibit yang Disemai

Khairu Rahmi, petani lainnya, membimbing sembilan buruh tani perempuan dengan seutas tali agar padi ditanam tegak dan rapi.

Penanaman ini merupakan yang pertama sejak bencana, dan dimulai sejak pukul 07.30 WIB.

Meski terlihat sederhana, para buruh bekerja dalam kondisi setengah badan terbenam dalam lumpur.

“Orang sangka kita kerja sambil duduk, padahal ini sudah berdiri dalam lumpur,” ujar Khairu.

Pemerintah juga menyalurkan bantuan bibit padi. Khairu menerima 10 kilogram untuk sawah seluas 10 rante atau 4.000 meter persegi.

Program ini menjadi awal untuk menata kembali kehidupan yang sempat porak-poranda.

Khairu mengaku sempat kehilangan arah setelah gagal panen. “Tentu kita senang dengan bantuan ini karena gak tahu lagi mau buat apa,” ungkapnya.

Selesai bekerja, para buruh tani membersihkan lumpur dengan air irigasi dan minum teh bersama.

Tawa pun pecah saat seorang ibu bercanda soal susahnya bekerja di lumpur, dan wajah-wajah lelah itu mulai tersenyum kembali.

Sementara itu, di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, lahan sawah yang masih tertimbun lumpur mulai mengering pada Sabtu, 24 Januari 2026.

Penulis :
Gerry Eka