Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Dirut Pupuk Indonesia Pastikan Harga Pupuk Subsidi Tetap Stabil Meski Gejolak Selat Hormuz

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Dirut Pupuk Indonesia Pastikan Harga Pupuk Subsidi Tetap Stabil Meski Gejolak Selat Hormuz
Foto: (Sumber : Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi (ketiga kiri) dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (2/4/2026). ANTARA/Harianto.)

Pantau - Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi memastikan harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi tidak akan mengalami kenaikan meski terjadi gejolak di Selat Hormuz yang berdampak pada perdagangan global.

Produksi Dalam Negeri Jadi Penopang Stabilitas

Rahmad menyatakan Indonesia tidak terdampak signifikan karena memiliki kapasitas produksi urea dalam negeri yang mencukupi kebutuhan nasional.

"HET (pupuk subsidi sebelumnya) sudah turun 20 persen, tidak ada rencana untuk kembali meningkatkan, artinya HET akan tetap," ungkapnya.

Ia menjelaskan kapasitas produksi urea Pupuk Indonesia mencapai 8,8 juta ton secara operasional dari total kapasitas terpasang 9,4 juta ton, sehingga mampu memenuhi kebutuhan domestik tanpa bergantung pada impor.

Menurutnya, meskipun Selat Hormuz dilalui sekitar 30 persen perdagangan pupuk dunia, kondisi tersebut tidak mempengaruhi pasokan dalam negeri.

Dampak Global Terbatas pada Biaya Distribusi

Rahmad mengungkapkan lonjakan harga urea global dari sekitar 400 dolar AS per ton menjadi 800 dolar AS per ton tidak berdampak langsung pada Indonesia.

Ia menambahkan potensi dampak hanya terjadi pada biaya pengiriman atau freight, namun tidak mengganggu ketersediaan pupuk nasional.

Selain urea, pasokan bahan baku seperti fosfat dan potas juga dipastikan aman karena tidak ada gangguan dari negara pemasok utama.

Rahmad menyebut Indonesia bahkan berpotensi menjadi penopang stabilitas pangan global di tengah ketidakpastian pasar internasional.

"Atas dampak dari penurunan HET 20 persen ini, kelihatan nyata sekali penebusan pupuk pada tahun 2025 dan 2026 ini meningkatnya cukup signifikan. Di tahun 2026 ini meningkat 31 persen," ujarnya.

Pemerintah sebelumnya menurunkan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen sejak Oktober 2025 untuk jenis urea dan NPK guna meningkatkan kesejahteraan petani dan produktivitas pertanian nasional.

Penulis :
Ahmad Yusuf