Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Warga Aceh Tamiang Bersyukur Tinggal di Hunian Sementara Setelah Dua Bulan Mengungsi Akibat Banjir

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Warga Aceh Tamiang Bersyukur Tinggal di Hunian Sementara Setelah Dua Bulan Mengungsi Akibat Banjir
Foto: (Sumber: Jubaidah (60) penghuni Huntara Danantara yang merupakan warga Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, menjawab pertanyaan ANTARA ditemui di Aceh Tamiang, Minggu (25/1/2026). ANTARA/Harianto.)

Pantau - Warga terdampak banjir besar di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, mulai menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, setelah dua bulan tinggal di tenda darurat di tepi sungai dengan kondisi yang memprihatinkan.

Huntara Bawa Rasa Aman dan Harapan Baru

Jubaidah (60), warga Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, mengaku lega akhirnya bisa tinggal di huntara setelah rumah panggung miliknya hanyut diterjang banjir.

"Senang lah ibu bisa tinggal di sini, enak dapat rumah (sementara), enggak kena angin (lagi). Kalau sana (di tenda pengungsian) kan kita di pinggir sungai. Di pinggir sungai, itu kami mengungsi di tenda," ungkapnya.

Selama hampir dua bulan, ia bersama keluarganya tinggal di tenda darurat tanpa penerangan memadai dan perlindungan dari cuaca ekstrem.

Pemindahan ke huntara yang difasilitasi oleh aparat kelurahan memberinya rasa aman, meski bantuan yang diterima hanya berupa bahan pokok dan perlengkapan dasar.

Huntara tersebut dilengkapi fasilitas umum seperti dapur umum, kamar mandi, dan toilet bersama yang layak digunakan.

Harapan Akan Hunian Tetap dan Pemulihan Kehidupan

Sitti Aisyah (51), warga Sukajadi lainnya, telah satu minggu tinggal di huntara bersama suami dan anaknya setelah rumah panggung miliknya hilang total akibat banjir.

"Rumah yang tadinya nggak pernah kena banjir, habis semuanya. Hanyut, hilang semua. Kan rumah panggung, tiang beton, lantai dengan yang atasnya itu udah habis, udah habis semua," katanya.

Sebelum menempati huntara, ia juga mengungsi di tenda darurat dan kehilangan mata pencaharian sebagai pedagang.

Kini, ia kembali berjualan mi sop di huntara dengan pendapatan yang menurun, sembari berharap pembangunan hunian tetap segera dimulai.

Ia juga kehilangan seluruh harta bendanya, termasuk perlengkapan pernikahan anaknya, sehingga hajatan yang direncanakan harus ditunda.

Di sisi lain, proses pengurusan dokumen kependudukan berjalan lancar dan menjadi bekal awal untuk membangun kembali kehidupan mereka.

Anak-anak Kembali Sekolah dan Beradaptasi

Fajar, pelajar kelas satu SMA asal Sukajadi, kini tinggal di huntara bersama orang tua dan empat anggota keluarganya lainnya setelah rumahnya juga hilang diterjang banjir.

Fajar tetap menjalani sekolah seperti biasa, dengan jarak tempuh yang sama seperti sebelum banjir.

"Tempatnya nyaman, ada jaringan internet juga di sini," ujarnya.

Di luar jam sekolah, Fajar bermain bola dan bergaul dengan teman sebaya untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Sebanyak 600 unit huntara dibangun oleh BPI Danantara di atas lahan bekas kebun sawit milik PTPN di Desa Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.

Penulis :
Gerry Eka