
Pantau - Kementerian Pertahanan (Kemhan) bersama Universitas Pertahanan (Unhan) memasang 60 unit instalasi penjernih air berbasis teknologi reverse osmosis (RO) di sejumlah fasilitas umum di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kabupaten Bener Meriah, Aceh, sejak 20 Desember 2025.
Program ini ditujukan untuk menjawab kebutuhan air bersih, khususnya di wilayah terdampak bencana, dan dirancang sebagai solusi berkelanjutan karya anak bangsa.
“Unhan sebagai think-tank-nya pertahanan sudah mendesain berkelanjutan tentang kebutuhan air bersih di saat bencana. Inilah memang salah satu karya anak bangsa untuk membantu wilayah yang terkena dampak bencana,” ujar Kolonel Infanteri Adam Mardamsyah, Komandan Satgas Air Bersih Aceh Tamiang sekaligus Kaprodi Informatika Unhan.
Fokus di Puskesmas, Sekolah, dan Wilayah Terpencil
Sebelum pemasangan, dilakukan survei dan pemetaan kebutuhan air minum di wilayah terdampak.
Dari 60 unit yang sudah terpasang, tiga di antaranya berada di Kabupaten Bener Meriah, sementara sisanya di Aceh Tamiang, termasuk SDN 1 Tualang Cut, Desa Tualang Baro, Kecamatan Manyak Payed.
Pemasangan dilakukan secara maraton atas arahan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin yang meninjau langsung wilayah prioritas untuk memastikan masyarakat segera mendapatkan akses air layak konsumsi.
Titik prioritas difokuskan pada seluruh puskesmas di Aceh Tamiang karena pentingnya air bersih dalam layanan kesehatan.
Selain puskesmas, instalasi juga dipasang di sekolah, meunasah, masjid, kantor pemerintahan, koramil, dan wilayah terisolir seperti Kampung Babo yang selama ini mengalami kesulitan akses air bersih.
“Semua instalasi dihibahkan kepada pengelola setempat dan tidak boleh diperjualbelikan,” tegas Kolonel Adam.
Pelatihan operator dan pengawasan sistem juga dilakukan agar alat berfungsi berkelanjutan dan tepat sasaran.
Teknologi RO Karya Dosen Unhan, Olah 15.000 Liter per Hari
Teknologi reverse osmosis yang digunakan merupakan hasil riset lebih dari satu dekade oleh dosen Unhan.
Dosen Prodi Fisika Unhan, Dian Parwati Ningtyas, menjelaskan bahwa RO bekerja dengan filtrasi dan tekanan tinggi untuk memurnikan air dari bakteri, virus, dan zat terlarut.
“Jadi pada dasarnya reverse osmosis itu adalah pembalikan suatu nilai air, bagaimana kita mengembalikan esensi air itu menjadi jernih, menjadi murni lagi melalui beberapa teknik,” ujarnya.
Sistem ini dilengkapi sensor Total Dissolved Solids (TDS) dan diuji di laboratorium tersertifikasi untuk memastikan air aman dikonsumsi, digunakan mandi, dan mencuci.
“Terutama untuk air minum kita menjaga pH-nya selalu netral antara 6,5 hingga 7. Kemudian masalah salinitas, karena untuk konsumsi jadi diharapkan masyarakat itu tidak meminum air yang kadar asinnya tinggi,” jelas Dian.
Air baku di Sumatera yang cenderung asam dan mengandung oksalat disesuaikan dengan formulasi batuan mineral alami hasil riset tim.
Air hasil olahan dibagi menjadi dua jalur, yakni untuk kebutuhan harian dan konsumsi.
Untuk air minum, cairan diperkaya mineral alami dan disterilisasi dengan ultraviolet sebelum didistribusikan ke masyarakat.
Satu unit RO kini mampu memproduksi hingga 15.000 liter air per hari.
Kementerian Pertahanan menargetkan pemasangan 100 unit di fasilitas umum, dengan pengembangan lanjutan untuk wilayah bencana, perbatasan, dan daerah terpencil.
- Penulis :
- Aditya Yohan







