
Pantau - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengimbau masyarakat Nusa Tenggara Barat untuk mewaspadai potensi pertumbuhan awan hujan dalam beberapa hari ke depan akibat pengaruh tekanan rendah di bagian utara Australia.
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid BMKG NTB Ari Wibianto menyampaikan bahwa berdasarkan perkembangan cuaca terdapat kemungkinan munculnya tekanan rendah di Australia bagian utara, sebagaimana ia ungkapkan, "Jika dilihat perkembangannya untuk beberapa hari ke depan kemungkinan adanya tekanan rendah di Australia bagian utara".
Ia menjelaskan bahwa kemunculan tekanan rendah tersebut dapat membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin di wilayah selatan Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Barat.
Awan hujan yang tumbuh akibat pengaruh tekanan rendah berpotensi terjadi secara merata, terutama pada siang hingga malam hari.
Pada periode 29 Januari hingga 4 Februari 2026, BMKG memprakirakan kondisi cuaca di wilayah Nusa Tenggara Barat umumnya cerah berawan hingga hujan sedang dengan intensitas sekitar 20 hingga 50 milimeter per hari.
BMKG mengingatkan masyarakat yang beraktivitas di sektor pelayaran, pertanian, dan perikanan agar terus memantau informasi cuaca terkini dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem.
Ari menyampaikan bahwa meskipun pusat tekanan rendah berada di luar wilayah Indonesia dan jauh dari Nusa Tenggara Barat, dampaknya tetap dapat dirasakan melalui pembentukan awan hujan yang cepat dan perubahan pola hembusan angin permukaan.
Saat ini BMKG mendeteksi kemunculan Bibit Siklon Tropis 98S di Samudera Hindia sebelah selatan Yogyakarta.
Sistem siklonik tersebut bergerak ke arah selatan hingga tenggara menjauhi wilayah Indonesia.
Ari menegaskan bahwa potensi bibit siklon tersebut untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 hingga 72 jam ke depan masih tergolong rendah, sebagaimana ia sampaikan, "Potensi untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 sampai 72 jam ke depan berada pada kategori rendah".
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







