
Pantau - Kementerian Agama Republik Indonesia memperkenalkan konsep ekoteologi dan pentingnya peran agama sebagai sumber harmoni sosial dalam seminar internasional yang menjadi bagian dari Cairo International Islamic Book Fair di Mesir.
Konsep ini disampaikan oleh Lubenah Amir, Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, dalam forum tersebut.
Lubenah menegaskan bahwa agama memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan global masa kini, termasuk krisis ekologis, krisis kemanusiaan, krisis makna, dan krisis kepercayaan.
"Dunia modern tengah menghadapi krisis yang saling berkaitan dan saling memengaruhi, yaitu krisis ekologis, krisis kemanusiaan, krisis makna, dan krisis kepercayaan," ujarnya.
Agama sebagai Sumber Kepedulian Universal
Lubenah menekankan bahwa agama tidak boleh hanya dipahami secara sempit sebagai praktik ritual atau identitas formal, melainkan harus hadir sebagai kekuatan sosial.
"Agama harus hadir sebagai sumber nilai moral dan kepedulian, yang memperbaiki hubungan manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan," katanya.
Ia menjelaskan bahwa inti ajaran Islam adalah rahmat atau kasih sayang yang bersifat universal dan kosmik.
"Pesan Islam sejak awal bersifat universal dan kosmik. Rahmat tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam," jelasnya.
Konsep rahmat tersebut menjadi landasan teologis bagi pengembangan ekoteologi dan pembangunan berkelanjutan berbasis agama.
Seruan Menyulam Kembali Nilai-Nilai Spiritual dalam Kehidupan Modern
Lubenah mengakui bahwa dalam kehidupan modern, nilai-nilai luhur tersebut sering mengalami fragmentasi dan terputus dari kepekaan terhadap penderitaan serta kerusakan lingkungan.
"Di sinilah pentingnya upaya menyulam kembali nilai-nilai tersebut, bukan sekadar sebagai wacana normatif, tetapi sebagai spirit yang hidup dalam perilaku sosial, kebijakan publik, dan praktik keberagamaan sehari-hari," ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa cinta dan kemanusiaan menjadi prioritas kebijakan keagamaan Kementerian Agama.
Prioritas itu diterjemahkan dalam bentuk layanan keagamaan yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
"Layanan ini dirancang agar beragama tidak berhenti pada aktivitas ritual, tetapi implementatif dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat," tegas Lubenah.
- Penulis :
- Gerry Eka







