Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Iran Tegaskan Tidak Kejar Senjata Nuklir, Kecam Serangan dan Tekanan Politik Internasional

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Iran Tegaskan Tidak Kejar Senjata Nuklir, Kecam Serangan dan Tekanan Politik Internasional
Foto: (Sumber: Ilustrasi fasilitas nuklir Iran. /ANTARA/Anadolu/py)

Pantau - Kepala Badan Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menegaskan bahwa senjata nuklir tidak termasuk dalam doktrin militer Iran dan menilai negaranya memiliki kemampuan pencegahan serta pertahanan yang cukup tanpa bom nuklir.

Pernyataan itu disampaikan Eslami dalam wawancara dengan media lokal pada Sabtu (31/1), di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan badan pengawas nuklir PBB, IAEA.

Pernyataan Eslami muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran agar menghentikan ambisi nuklirnya, dan mengumumkan pengerahan armada laut besar AS menuju Iran.

Iran Tuding IAEA Tidak Netral dan Fasilitasi Serangan

Iran menuduh IAEA mempolitisasi program nuklir Teheran, bahkan menuding Kepala IAEA Rafael Grossi memfasilitasi serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025.

Eslami menilai bahwa berkas nuklir Iran di IAEA dipengaruhi tekanan politik eksternal terhadap pimpinan badan tersebut, dan memperkirakan tekanan akan meningkat menjelang pertemuan Dewan Gubernur IAEA pada Maret mendatang.

Ia juga menyebut AS dan tiga negara Eropa (Inggris, Jerman, Prancis) gagal memenuhi komitmen mereka dalam perjanjian nuklir JCPOA, dan memicu berakhirnya kesepakatan tersebut melalui mekanisme snapback pada akhir 2025.

Kecam Serangan AS dan Tekanan Berkelanjutan

Eslami menyoroti pemboman oleh AS terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran—Fordow, Natanz, dan Isfahan—selama perang 12 hari pada Juni 2025.

Ia menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan melanggar hukum internasional serta Piagam PBB.

Fasilitas yang dibom, menurutnya, telah terdaftar dan diawasi oleh IAEA.

Meskipun Iran tetap menjadi penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan menyatakan mematuhi ketentuan pengamanan internasional, parlemen Iran memutuskan menangguhkan sebagian kerja sama dengan IAEA demi keamanan fasilitas dan personel nuklir.

Inspeksi terhadap fasilitas yang terdampak dihentikan, sementara pengawasan terhadap fasilitas lain masih berjalan.

Eslami menyatakan, "IAEA tidak mengambil tindakan apapun pasca serangan terhadap fasilitas nuklir Iran."

Ia juga menegaskan bahwa Iran kini menghadapi ancaman terbuka setiap hari dari pejabat AS dan Israel, dan sedang berada dalam situasi keamanan masa perang.

Fatwa Anti-Nuklir dan Seruan Revisi Doktrin

Eslami kembali menegaskan bahwa Iran tidak mengejar senjata nuklir, mengacu pada fatwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang melarang kepemilikan senjata nuklir.

Namun di dalam negeri, mulai muncul seruan dari sebagian kalangan agar pemerintah mempertimbangkan ulang doktrin non-nuklir, mengingat meningkatnya ancaman militer dari AS dan Israel.

Ia juga menyerukan agar IAEA bertindak profesional dan independen, serta segera mengumumkan langkah konkret jika fasilitas nuklir kembali diserang.

Iran menyatakan bahwa pengayaan uranium hingga 60 persen dilakukan untuk kebutuhan nasional jangka panjang, seperti pengembangan propulsi nuklir.

Penulis :
Gerry Eka