
Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah sebesar 23 poin atau 0,14 persen pada perdagangan hari Rabu di Jakarta, menjadi Rp16.777 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.754 per dolar AS.
Faktor Stabilitas Makro Menahan Pelemahan
Taufan Dimas Hareva dari Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) menyatakan bahwa pelemahan rupiah masih tertahan oleh kombinasi faktor stabilitas makro dan kehati-hatian investor.
"Rupiah relatif tertahan oleh kombinasi faktor stabilitas makro masih solid dan kehati-hatian investor", ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih cukup kuat, ditunjukkan oleh inflasi yang berada dalam target, cadangan devisa yang memadai, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan moneter dan intervensi pasar.
Namun demikian, aliran modal asing ke pasar keuangan domestik masih bersifat selektif.
Sentimen Global dan Sikap The Fed Menekan Rupiah
Selektifnya aliran modal asing ini terjadi di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan meningkatnya volatilitas di pasar saham kawasan.
"Kondisi ini membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas, meskipun tekanan pelemahan tidak akan terlalu dalam selama sentimen global tidak memburuk secara signifikan", ia mengungkapkan.
Menurutnya, pelaku pasar masih mencermati dinamika sentimen global dan menantikan kehadiran katalis baru yang lebih kuat untuk menggerakkan pasar.
"Tekanan terhadap rupiah berasal dari penguatan dolar AS yang didukung ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang cenderung bertahan ketat serta kenaikan imbal hasil US Treasury, sehingga mendorong sikap hati-hati investor global", jelasnya.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia justru mengalami sedikit penguatan ke level Rp16.775 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.777 per dolar AS.
- Penulis :
- Leon Weldrick







