
Pantau - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menekankan urgensi penguatan sistem Teaching Factory oleh politeknik untuk menciptakan pendidikan vokasi yang berkualitas dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan Brian Yuliarto saat menerima kunjungan peserta Program Inspirasi Manajemen Visioner di Jakarta pada Rabu, 4 Februari 2026.
Brian Yuliarto menyampaikan bahwa Teaching Factory merupakan media ekosistem pembelajaran berbasis produksi yang harus sehat secara bisnis dan teknologi.
Teaching Factory juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi serta menjadi mesin ekonomi nyata bagi institusi pendidikan vokasi.
“Kita harus mencari hal ikonik yang dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat. Teaching Factory saya pikir sesuatu yang harus diperkuat oleh politeknik. Tentunya harus sehat secara bisnis, teknologi, dan memberikan dampak ekonomi,” ungkap Brian Yuliarto.
Ia menilai Teaching Factory memungkinkan mahasiswa belajar melalui praktik langsung sekaligus mendukung keberlanjutan institusi pendidikan.
Transformasi pendidikan vokasi ditegaskan harus menghasilkan dampak nyata dan tidak berhenti pada konsep semata.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Khairul Munadi menegaskan penguatan Teaching Factory harus melembaga dan tidak berhenti sebagai program sesaat.
Menurutnya, program tersebut harus berjalan secara sistematis dan berkelanjutan.
“Dalam konteks transformasi pendidikan tinggi, kepemimpinan memegang peran yang sangat krusial. Dengan kepemimpinan yang kuat, keterbatasan sumber daya dapat diatasi melalui kolaborasi dan inovasi. Sebaliknya, sumber daya yang melimpah tanpa kepemimpinan yang baik justru berpotensi tidak termanfaatkan secara optimal,” ujar Khairul Munadi.
Direktur Politeknik Negeri Indramayu sekaligus ketua delegasi peserta Program Inspirasi Manajemen Visioner Rofan Aziz menyoroti pentingnya kepemimpinan visioner dalam transformasi pendidikan vokasi.
Ia menyatakan transformasi pendidikan vokasi perlu bersifat adaptif, inovatif, dan berdaya saing global dengan mengacu pada praktik baik internasional.
Rofan Aziz memperkenalkan pendekatan kemitraan Co-Design, Co-Location, Co-Funding, Co-Creation, dan Co-Prosper atau model 5C untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, regulator, dan pendanaan.
“Transformasi Polytechnic University bukan hanya transformasi nama, tetapi memang membutuhkan beberapa otonomi fungsional, kemitraan industri yang sejajar dari riset terapan yang berdampak bukan hanya sekedar penyesuaian kurikulum,” ungkap Rofan Aziz.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







