Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Traktat Jakarta 2026 Resmikan Babak Baru Aliansi Keamanan Indonesia–Australia

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Traktat Jakarta 2026 Resmikan Babak Baru Aliansi Keamanan Indonesia–Australia
Foto: Presiden Prabowo Subianto (kanan) dan Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese (kiri) menandatangani Traktat mengenai keamanan saat kunjungan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat 6/2/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Pantau - Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menandatangani Traktat Jakarta 2026 di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (6/2/2026), sebagai bentuk penguatan kemitraan strategis komprehensif antara kedua negara.

Kesepakatan ini merupakan traktat keamanan bilateral yang dirancang sebagai tindak lanjut dari pembicaraan sebelumnya saat kunjungan Prabowo ke Sydney pada November 2025.

Traktat ini disebut sebagai tonggak baru dalam hubungan bilateral Indonesia–Australia, sekaligus simbol kepercayaan dan komitmen jangka panjang dalam menjaga perdamaian di kawasan Indo-Pasifik.

Kelanjutan Aliansi Era Soeharto

Traktat Jakarta 2026 dianggap sebagai kelanjutan dari perjanjian keamanan tahun 1995 yang kala itu ditandatangani oleh Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Australia Paul Keating.

Albanese menyatakan bahwa hubungan pertahanan kedua negara telah berlangsung selama tiga dekade dan kini memasuki fase baru kerja sama yang lebih mendalam.

"Ini adalah momen bersejarah dalam menjaga stabilitas kawasan. Kita membangun di atas fondasi kepercayaan yang telah dirintis sejak 1995," ungkapnya.

Langkah Konkret Penguatan Kerja Sama Militer

Dalam pernyataannya, Albanese mengumumkan tiga inisiatif utama sebagai implementasi awal dari traktat ini.

Pertama, penugasan perwira senior Indonesia di Angkatan Pertahanan Australia.

Kedua, pengembangan fasilitas pelatihan militer bersama untuk mendukung latihan gabungan antarpasukan.

Ketiga, perluasan program pertukaran pendidikan militer sebagai upaya membangun kedekatan antargenerasi pemimpin militer.

"Hubungan kita berada di titik terkuatnya," ia mengungkapkan.

Albanese juga menyoroti pentingnya kerja sama karena kedua negara berbagi batas maritim terpanjang di dunia, yang memerlukan stabilitas dan kolaborasi berkelanjutan.

Ia menutup pernyataannya dengan mengatakan, “Hari ini, kita bukan hanya sekadar mitra, kita adalah sahabat dekat.”

Penulis :
Arian Mesa