
Pantau - Komisi XIII DPR RI melakukan Kunjungan Kerja Spesifik Kunspek ke Istana Kepresidenan Yogyakarta Gedung Agung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu, 11 Februari 2026, dan menegaskan dukungan agar istana menjadi ruang belajar sejarah bagi generasi muda.
Kunjungan tersebut dipimpin Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya yang menekankan pentingnya menjadikan istana kepresidenan sebagai simbol negara yang inklusif dan terbuka bagi rakyat.
Ia menyebut Gedung Agung memiliki nilai historis yang sangat kuat sebagai rahim republik karena Yogyakarta pernah menjadi ibu kota negara dan menjadi tempat lahirnya sejumlah tokoh bangsa, termasuk Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.
"Konteksnya adalah bagaimana kita ingin membuka istana untuk rakyat. Ini adalah tempat yang penuh histori, bayinya republik itu ada di sini. Membangun benang merah historis itu harus konkret supaya kita tidak menjadi bangsa yang amnesia," ungkapnya.
Lonjakan Pengunjung Pascapandemi
Semangat membuka istana untuk rakyat dinilai sejalan dengan tren positif program Istana untuk Rakyat (Istura) yang menunjukkan peningkatan jumlah kunjungan dalam tiga tahun terakhir.
Data kunjungan Gedung Agung mencatat pada 2023 jumlah pengunjung sebanyak 2.244 orang, dengan penurunan terjadi akibat pembangunan dan pengaspalan di kawasan tersebut.
Pada 2024 saat Istura dibuka penuh untuk umum, jumlah pengunjung melonjak menjadi 17.789 orang dan kembali meningkat pada 2025 menjadi 20.668 orang.
Mayoritas pengunjung tercatat didominasi wisatawan nusantara yang datang untuk melihat langsung bangunan bersejarah tersebut.
Narasi Sejarah untuk Kaum Muda
Melihat tingginya animo masyarakat, Anggota Komisi XIII DPR RI Marinus Gea menyoroti pentingnya penyampaian narasi sejarah di dalam istana kepresidenan, khususnya bagi ribuan pengunjung dari kalangan muda.
"Ada hal yang penting bagaimana sejarah Indonesia itu bisa terungkap di dalam istana kepresidenan ini dan bagaimana Pemerintah memanfaatkan istana-istana kepresidenan ini baik Yogyakarta, Jakarta, Cipanas, dan lainnya bisa menjadi sumber sejarah yang tidak bisa dilupakan oleh anak-anak," ia mengungkapkan.
Ia menyebut Istana Kepresidenan Yogyakarta, Istana Kepresidenan Jakarta, Istana Kepresidenan Cipanas, dan istana lainnya harus dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah yang konkret.
Komisi XIII berharap program Istura tidak sekadar menjadi wisata visual, tetapi menjadi sarana transfer nilai kebangsaan agar generasi penerus tidak kehilangan identitas sejarahnya.
- Penulis :
- Shila Glorya








