
Pantau - Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali menyatakan pihaknya telah menyiapkan kapal rumah sakit untuk dikirim ke Palestina sebagai bagian dari komitmen Indonesia dalam Board of Peace guna membantu meredam konflik di Gaza.
Muhammad Ali mengatakan TNI AL memprioritaskan pengiriman satu kapal rumah sakit ke Palestina dan menyiapkan satu kapal lainnya sebagai cadangan.
"Jadi kita akan mengirimkan kapal rumah sakit, yang jelas. Sementara yang masih didaftarkan satu, tapi mungkin bisa jadi lebih dari satu ya," ungkapnya saat ditemui di Pusat Polisi Militer Angkatan Laut, Jakarta Utara.
Pengiriman kapal rumah sakit tersebut akan dilakukan bersamaan dengan pemberangkatan pasukan dari bidang zeni konstruksi dan bidang kesehatan.
Terkait jumlah personel yang akan diberangkatkan, Muhammad Ali menyebut masih menunggu arahan dari Markas Besar TNI.
"Jumlahnya kita masih menunggu kesepakatan dan arahan dari Mabes TNI," ujarnya.
Target 8.000 Prajurit Masih Dibahas
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan pemerintah tengah mematangkan rencana pengiriman pasukan penjaga perdamaian sebagai bagian dari komitmen Indonesia dalam Board of Peace.
Proses pengiriman pasukan tersebut hingga kini masih dalam tahap pembahasan lintas kementerian dan lembaga terkait.
Prasetyo memperkirakan jumlah personel yang akan dikirim mencapai kurang lebih 8.000 prajurit TNI.
"Sedang dibicarakan, tapi ada kemungkinan kita akan kurang lebih di angka 8.000," ujarnya di Jakarta pada 10 Februari.
Ia menambahkan wilayah Rafah sempat menjadi salah satu opsi penempatan pasukan, namun keputusan tersebut belum bersifat final.
"Kita baru mempersiapkan diri, sewaktu-waktu sudah ada kesepakatan, kita harus mengirim pasukan perdamaian sebagai sebuah komitmen. Itu akan kita lakukan," tegasnya.
Komitmen Indonesia dalam Board of Peace
Keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace disebut sebagai bagian dari komitmen bangsa terhadap perjuangan Palestina, khususnya dalam mendukung pengakuan kemerdekaan Palestina dan membantu meringankan penderitaan warga Gaza.
Indonesia bergabung dalam Board of Peace bersama tujuh negara muslim lainnya dengan harapan dapat menurunkan eskalasi konflik serta membuka akses bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza.
"Setidaknya kita berharap akan mengurangi eskalasi konflik yang ada di Gaza, sehingga saudara-saudara kita berkurang penderitaannya. Dengan sekarang proses tersebut, bantuan-bantuan makanan bisa masuk ke Gaza. Yang ini kita berharap meringankan beban saudara-saudara kita," kata Prasetyo.
Terkait Konferensi Tingkat Tinggi perdana Board of Peace pada 19 Februari 2026, Presiden Prabowo Subianto telah menerima undangan, namun kehadirannya belum dapat dikonfirmasi.
- Penulis :
- Leon Weldrick








