Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Mahasiswa UUI Latih Warga Pidie Jaya Produksi Antinyamuk Alami dari Boh Kala Pascabanjir

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Mahasiswa UUI Latih Warga Pidie Jaya Produksi Antinyamuk Alami dari Boh Kala Pascabanjir
Foto: (Sumber: Mahasiswa UUI saat memberikan pelatihan pembuatan obat antinyamuk alami dari bunga kecombrang (boh kala) kepada penyintas banjir di Desa Manyang Cut Kecamatan Meureudu Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Sabtu (14/2/2026). ANTARA/Aisyah.)

Pantau - Mahasiswa Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) Aceh melatih masyarakat penyintas banjir di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, untuk membuat antinyamuk alami dari bunga kecombrang atau boh kala sebagai upaya mitigasi risiko penyakit pascabencana.

Kegiatan yang diberitakan dari Banda Aceh ini dilaksanakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, dan merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak 2026 yang didanai Kementerian Riset, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek).

Program tersebut berlangsung selama 20 hari sejak 2 hingga 21 Februari 2026 dengan melibatkan 50 mahasiswa dari empat program studi di bawah Fakultas Ilmu Kesehatan, yakni S1 Farmasi, S1 Kesehatan Masyarakat, S1 Kebidanan, dan S1 Ilmu Gizi.

Ketua Tim Dosen UUI, Chairanisa Anwar, menyampaikan, “Kalau masyarakat tidak diajarkan mengolah bahan yang ada di desa menjadi antinyamuk alami, tentu ini bisa menjadi masalah bagi kesehatan,” di Pidie Jaya, Sabtu.

Ia menjelaskan daerah terdampak bencana banyak menimbulkan genangan air, tumpukan barang, dan saluran air tersumbat yang menjadi sumber munculnya jentik nyamuk sehingga berisiko memicu penyakit berbasis vektor.

Inovasi bertema “Boh Kala untuk Aceh Tangguh: Inovasi Anti-Nyamuk Alami Berbasis Kearifan Lokal dalam Mitigasi Risiko Penyakit Pasca Banjir” ini menjadi langkah preventif untuk menekan risiko penyebaran penyakit seperti malaria, chikungunya, dan demam berdarah dengue (DBD) yang sering meningkat setelah banjir.

“Dengan keterbatasan warga terdampak, maka salah satu solusinya adalah memperkenalkan obat antinyamuk berbahan alami. Apalagi, Boh kala relatif masih mudah didapatkan di lingkungan sekitar,” ujarnya.

Selama pelaksanaan, mahasiswa melakukan pendampingan langsung kepada masyarakat serta menyediakan bahan dan peralatan produksi agar warga mampu memproduksi antinyamuk secara mandiri.

Di lapangan, mahasiswa didampingi tiga dosen, yakni Chairanisa Anwar, Siti Samaniyah, dan Nuzulul Rahmi.

Pelatihan menyasar kelompok tani dan kelompok peternak yang terdampak banjir bandang hingga menyebabkan banyak sawah gagal panen dan sejumlah hewan ternak mati.

“Kami memberikan pelatihan kepada kelompok tani dan kelompok ternak. Harapannya, ini bisa menjadi produk UMKM unggulan desa ke depan,” kata Chairanisa.

Produk antinyamuk berbahan kecombrang tersebut tidak mengandung bahan kimia repellent sehingga dinilai lebih aman, minim iritasi, dan dapat digunakan oleh berbagai kelompok usia.

“Setelah ini, kampus juga membuka peluang pendampingan lanjutan apabila masyarakat membutuhkan,” ujar Chairanisa.

Salah seorang warga Desa Manyang Cut, Asnidar, mengaku senang dengan adanya program tersebut karena jumlah nyamuk semakin banyak dan meresahkan setelah banjir.

“Memang setelah banjir nyamuk semakin banyak. Jadi produk ini cukup membantu masyarakat di sini,” kata Asnidar.

Ia menambahkan bahan baku bunga kecombrang sangat mudah ditemukan dan berpotensi dikembangkan serta dipasarkan lebih luas.

“Kalau bisa nanti dipromosikan lagi, mungkin bisa dijual. Bahannya juga ada di desa kami,” demikian Asnidar.

Penulis :
Gerry Eka