
Pantau - Universitas Muslim Indonesia menetapkan pelaksanaan perkuliahan Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 dilakukan secara daring selama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah melalui mekanisme resmi Senat Akademik UMI.
Penetapan kebijakan tersebut mempertimbangkan aspek akademik, kondisi sosial-ekonomi mahasiswa, serta dinamika masyarakat nasional.
Rektor UMI Prof Hambali Thalib menegaskan bahwa kebijakan ini bukan bentuk pelonggaran standar akademik.
Ia menyatakan, "Kami tidak menurunkan mutu. Kami menjaga ilmu tetap optimal dan orang tua tetap tenang. Pendidikan tidak boleh menjadi beban ganda bagi keluarga," tegasnya.
UMI memahami mayoritas mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Jika perkuliahan tetap luring, mahasiswa harus datang ke Makassar, kuliah sekitar dua minggu, pulang kampung, lalu kembali lagi untuk melanjutkan perkuliahan.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan biaya tiket perjalanan dua kali, biaya kos tambahan, serta peningkatan beban finansial keluarga.
Melihat situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil dan fluktuasi biaya transportasi, UMI memilih solusi pembelajaran daring selama Ramadhan 2026.
Standar Akademik Tetap Dijaga
Secara akademik, seluruh standar tetap dijaga dengan substansi pembelajaran sesuai RPS, SKS, dan CPL berbasis Outcome Based Education.
Kegiatan praktikum, klinik, studio, dan lapangan tetap dilaksanakan secara luring setelah Ramadhan.
Rektor menegaskan, "Standar akademik kami kokoh. Tetapi kepekaan sosial adalah etika institusi. Transformasi digital tidak boleh menghilangkan nurani," ujarnya.
Rekam Jejak dan Capaian Institusi
UMI tercatat sebagai Perguruan Tinggi Terakreditasi Unggul pertama di luar Jawa.
UMI merupakan PTS dengan guru besar terbanyak di Indonesia.
UMI menjadi pelopor dan penyelenggara pertama Program Profesi Insinyur yang meraih Rekor MURI.
UMI juga merupakan PTS tertua dan terbaik di Indonesia Timur serta satu-satunya PTS di kawasan tersebut yang masuk 100 Besar Webometrics Indonesia 2026.
- Penulis :
- Aditya Yohan







