
Pantau - Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) mengungkapkan Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) Pantura Jawa akan dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur strategis seperti jalan tol, Moda Raya Terpadu (MRT), hingga pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan.
Kepala BOPPJ Didit Herdiawan Ashaf mengatakan infrastruktur transportasi akan terintegrasi langsung di atas tanggul laut tersebut.
"Di situ (akan) ada jalan tol dan MRT," ungkapnya di Jakarta, Senin.
Selain jalan tol dan MRT, tanggul laut juga dirancang mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) serta pemasangan panel surya sebagai bagian dari pemanfaatan energi bersih.
"Dan di sebelah dalamnya itu dimanfaatkan dengan menggunakan waduk retensinya itu dimanfaatkan untuk panel surya. Kira-kira seperti itu. Ini masih salah satu gambaran. Dan ada area pengembangan juga untuk pembangunan kegiatan area development nantinya di luar setelah tanggulnya ini jadi," jelas Didit.
Sistem Perlindungan Terintegrasi Sepanjang 535 Kilometer
Pengembangan sistem perlindungan pesisir Pantura Jawa, termasuk Giant Sea Wall, menjadi bagian strategi nasional untuk menjaga keberlanjutan peradaban pesisir di wilayah tersebut.
Perlindungan pesisir yang dikembangkan tidak hanya berupa pembangunan tanggul laut semata, melainkan sistem terintegrasi yang menggabungkan tanggul laut lepas pantai atau offshore dike, tanggul pantai darat atau onshore dike, serta solusi berbasis alam atau nature-based solutions seperti penguatan ekosistem mangrove.
Secara konseptual, sistem perlindungan pesisir Pantura Jawa direncanakan membentang sepanjang kurang lebih 535 kilometer.
Wilayah cakupan tersebut tersebar di lima provinsi yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta meliputi lima wilayah kota dan 25 kabupaten.
Cakupan itu bukan berupa satu struktur tunggal yang dibangun serentak, melainkan sistem perlindungan bertahap sesuai prioritas berdasarkan karakteristik risiko, kondisi teknis, dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Komitmen Adaptasi Iklim dan Keberlanjutan Pesisir
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan proyek Giant Sea Wall bukan hanya pembangunan fisik semata.
Ia menyatakan proyek tersebut mencerminkan komitmen Indonesia dalam perlindungan lingkungan dan keberlanjutan masyarakat pesisir.
AHY menekankan Giant Sea Wall bukan sekadar tembok raksasa, melainkan sistem adaptif untuk menghadapi banjir rob dan krisis iklim.
Sistem tersebut sekaligus dirancang menjaga ekosistem serta keberlangsungan hidup masyarakat pesisir di sepanjang Pantura Jawa.
- Penulis :
- Shila Glorya







