Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Fenomena Perang Sarung Warnai Malam Ramadhan di Mataram, Aparat Tingkatkan Pengawasan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Fenomena Perang Sarung Warnai Malam Ramadhan di Mataram, Aparat Tingkatkan Pengawasan
Foto: (Sumber : Arsip - Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menertibkan kegiatan anak-anak yang bermain lomba lari dan pukul-pukul atau perang sarung pada salah satu titik di wilayah Kota Mataram. (ANTARA/Satpol PP Mataram))

Pantau - Malam Ramadhan di sejumlah sudut Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, dalam beberapa tahun terakhir diwarnai fenomena perang sarung di kalangan remaja yang berujung benturan dan tawuran.

Sejumlah remaja terlihat berlarian di jalanan dengan sarung dililitkan di tangan dan sebagian di antaranya diisi batu atau benda keras sehingga permainan yang awalnya seru-seruan berubah menjadi aksi berbahaya.

Fenomena tersebut kembali menjadi sorotan pada Ramadhan 1447 Hijriah dan mendorong Pemerintah Kota Mataram meminta orang tua lebih intensif mengawasi anak-anak mereka.

Dinas pendidikan di Kota Mataram menegaskan akan memberikan sanksi tegas termasuk skorsing bagi siswa yang terlibat dalam aksi tersebut.

Kepolisian juga meningkatkan patroli malam hingga waktu sahur guna mencegah bentrokan dan gangguan keamanan.

Di Dompu, dua remaja diamankan polisi setelah perang sarung bermodus tawuran yang melibatkan lemparan batu dan anak panah.

Secara historis perang sarung merupakan permainan anak-anak menjelang sahur dengan sarung yang dipelintir dan dipukulkan ringan sambil bercanda.

Permainan tersebut mengalami distorsi ketika sarung diisi batu, kepala ikat pinggang, atau benda logam sehingga berubah menjadi tindakan berisiko.

Di sejumlah kasus, perang sarung menjadi pintu masuk tawuran antarkelompok yang melibatkan kekerasan lebih serius.

Aparat di Dompu mencatat bentrokan yang tidak lagi sekadar pukul sarung tetapi disertai lemparan batu dan anak panah.

Di Mataram, sejumlah titik seperti Udayana, Jalan Lingkar, Sekarbela, Jempong, hingga Adi Sucipto menjadi perhatian aparat terutama selepas sahur hingga subuh.

Patroli rutin dilakukan termasuk penertiban knalpot bising dan balap liar yang menunjukkan perang sarung menjadi bagian dari spektrum kenakalan remaja pada jam rawan.

Data nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren kekerasan yang melibatkan anak masih tinggi baik sebagai korban maupun pelaku.

Dalam konteks lokal, perang sarung dinilai menjadi bentuk konkret potensi kekerasan yang perlu dicegah sejak dini.

Ramadhan yang menghadirkan perubahan ritme waktu dengan aktivitas malam lebih panjang dan jam sekolah lebih fleksibel dinilai membuat energi remaja yang tidak terkelola berpotensi mencari pelampiasan di ruang publik.

Tanpa pengawasan dan pembinaan yang memadai, ruang publik berisiko berubah menjadi arena unjuk keberanian yang berujung pada gangguan keamanan selama Ramadhan.

Penulis :
Ahmad Yusuf