Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Menag Nasaruddin Umar Ajak Pakar Ekonomi Syariah Bersinergi Transformasikan Pengelolaan Dana Umat

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Menag Nasaruddin Umar Ajak Pakar Ekonomi Syariah Bersinergi Transformasikan Pengelolaan Dana Umat
Foto: (Sumber : Menteri Agama Nasaruddin Umar. ANTARA/HO-Kemenag.)

Pantau - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak para pakar dan praktisi ekonomi syariah untuk bersinergi dengan pemerintah dalam mentransformasi pengelolaan dana umat seperti zakat, infak, wakaf, dan sedekah.

Ajakan tersebut disampaikan dalam keterangan di Jakarta pada Senin terkait pentingnya kolaborasi profesional dari berbagai pihak di luar kementerian.

Pernyataan itu disampaikan saat memberikan sambutan pada Tasyakur Milad ke-22 Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dan Silaturahmi Stakeholders Ekonomi Islam di Jakarta.

Menag menyatakan, "Kami membutuhkan masukan dan bantuan khusus dari para ahli di luar kementerian secara profesional, baik secara teoretis maupun praktis. Ini sangat penting, oleh karena itu, Bapak-Ibu sekalian mari kita berikan muatan-muatan strategis terkait hal ini,".

Nasaruddin Umar menekankan bahwa Kementerian Agama memerlukan perspektif segar serta keahlian profesional dari pihak eksternal guna memperkuat tata kelola ekonomi Islam yang kredibel.

Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah rencana pemerintah membentuk Lembaga Pengelola Dana Umat LPDU sebagai instrumen penguatan pengelolaan dana keagamaan.

Ia menargetkan agar rumusan dan gagasan konkret mengenai LPDU dapat diintensifkan terutama pada momentum Ramadhan.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu menegaskan bahwa setiap langkah penguatan ekonomi harus berada dalam koridor hukum yang berlaku dan selaras dengan amanat UUD 1945 Pasal 33.

Dalam mendorong pemajuan ekonomi bangsa, ia merefleksikan prinsip ekonomi pada masa Rasulullah SAW dengan menekankan bahwa stabilitas keamanan merupakan kunci utama pertumbuhan ekonomi.

Ia menyatakan, “Ekonomi itu butuh rasa aman. Rasulullah sudah mencontohkan, perdagangan baru bisa bangkit kalau ada stabilitas, maka gencatan senjata didahulukan. Jangan sampai merusak sumber daya seperti tanaman atau industri rakyat. Esensi ekonomi Islam adalah keberlanjutan tanpa riba dan tanpa praktik menimbun barang,”.

Menag juga mengingatkan agar para pemikir ekonomi Islam tidak kehilangan jati diri dan tidak terjebak pada pemikiran yang terlalu rasional-liberal tanpa akar teologis yang kuat.

Ia menegaskan, "Saya mohon gagasan kita ini jangan terpisah dengan ayat, hadis, dan kitab-kitab kuning sebagai legitimasi. Kita harus memiliki wawasan keislaman yang mendalam agar tidak disebut liberal,".

Penulis :
Aditya Yohan