Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Apindo Menyiapkan Mitigasi Adaptif untuk Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Apindo Menyiapkan Mitigasi Adaptif untuk Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah
Foto: (Sumber : Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani dalam jumpa pers di Markas Pusat PMI Jakarta, Senin (22/12/2025). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira).)

Pantau - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyiapkan langkah mitigasi adaptif untuk menghadapi dampak konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah terhadap perekonomian nasional.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menyampaikan dunia usaha fokus pada mitigasi risiko yang realistis dan adaptif sebagai langkah awal dan jangka pendek.

Ia mengatakan, "Secara keseluruhan, dunia usaha menyikapi kondisi ini dengan pendekatan 'wait and see but prepared' apabila tekanan global berlanjut,", ungkapnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan pelaku usaha memilih menunggu dan melihat perkembangan situasi, namun tetap siap menghadapi kemungkinan tekanan global yang berkepanjangan.

Strategi Mitigasi dan Efisiensi Operasional

Shinta menjelaskan langkah mitigasi yang disiapkan antara lain penyesuaian struktur biaya produksi dan distribusi untuk menjaga keseimbangan arus kas perusahaan.

Pelaku usaha juga meningkatkan efisiensi operasional guna menjaga stabilitas bisnis di tengah potensi gejolak harga energi dan logistik.

Apindo mendorong penerapan manajemen risiko yang lebih disiplin, termasuk pengelolaan eksposur valuta asing, diversifikasi sumber pasokan, serta pemanfaatan instrumen lindung nilai atau natural hedging yang tersedia.

Organisasi tersebut juga meminta pemerintah menjaga stabilitas harga energi dan pangan secara terukur serta memperkuat cadangan dan distribusi logistik strategis.

Apindo menekankan pentingnya disiplin fiskal, kebijakan moneter yang tepat, serta pengelolaan utang yang prudent untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Dorongan Stabilitas dan Koordinasi Kebijakan

Shinta mengatakan, "Di saat yang sama, penting bagi Indonesia untuk tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, menjaga posisi netral, serta mengedepankan prinsip perdamaian dan stabilitas kawasan,", tegasnya.

Ia menilai pendekatan yang tidak reaktif akan memastikan Indonesia tidak terseret dalam pusaran konflik geopolitik yang dapat menambah risiko ekonomi domestik.

Stabilitas politik dan kredibilitas diplomatik disebut sebagai fondasi penting dalam menjaga kepercayaan pasar dan keberlanjutan aktivitas dunia usaha.

Shinta menegaskan, "Pada akhirnya, koordinasi kebijakan yang solid dan terukur akan sangat menentukan daya tahan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang,", ujarnya.

Sebelumnya pada Sabtu, 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran termasuk di Teheran yang menyebabkan kerusakan, korban sipil, serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei dan beberapa pejabat senior pemerintah serta militer Iran.

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Penulis :
Aditya Yohan