
Pantau - Riset tim peneliti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan program tersebut berpotensi meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp14,5 triliun hingga Rp26 triliun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sepanjang 2025.
Ketua Tim Peneliti Program MBG BRIN Iwan Hermawan memaparkan hasil riset tersebut dalam Seminar Hasil Riset Program MBG di Jakarta pada Rabu, 4 Maret 2026.
Ia menyatakan bahwa "Program MBG memberikan dampak makroekonomi yang positif dan terukur. Jadi, simulasinya menunjukkan peningkatan tambahan PDB itu sebesar Rp14,5-26 triliun".
Penelitian tersebut melibatkan 855 responden dan dilakukan di dua wilayah, yakni Provinsi Bangka Belitung dan Jawa Barat.
Penelitian menggunakan sejumlah metode analisis, antara lain Computable General Equilibrium (CGE), Structural Equation Modelling (SEM), pendekatan Institutional Analysis and Development (IAD), serta pendekatan Importance Performance Analysis (IPA).
Dampak Makroekonomi dan Peningkatan Konsumsi
Hasil simulasi riset menunjukkan Program MBG juga mendorong kenaikan konsumsi agregat sebesar 0,19 persen.
Selain itu terjadi peningkatan investasi sebesar 0,24 persen dengan tekanan inflasi yang relatif terkendali.
Peningkatan PDB melalui program tersebut terjadi karena penguatan permintaan domestik dan aktivitas sektor riil.
Iwan menjelaskan bahwa konsumsi dan investasi memiliki peran penting karena keduanya merupakan komponen terbesar dalam komposisi PDB.
Ia menyatakan bahwa "Kenapa harus konsumsi dan investasi? Karena di komposisi PDB dua itu yang punya proporsi yang besar, jadi kalau mereka meningkat dan nilainya besar dan akan mendorong PDB. Apalagi nanti 2029 (ditargetkan pertumbuhan) mau 8 persen, jadi harusnya sih ini sejalan untuk ke sana, dengan tingkat inflasi yang relatif terkendali".
Dampak ke Sektor Pangan dan Tenaga Kerja
Program MBG juga memberikan dampak ekonomi dari hulu hingga hilir dalam rantai ekonomi, terutama pada sektor pangan.
Peningkatan produksi terjadi pada sejumlah komoditas seperti beras, hasil olahan daging, susu, serta sektor hortikultura.
Selain itu, program tersebut turut meningkatkan penyerapan tenaga kerja hingga 0,19 persen terutama pada sektor pangan dan industri pengolahan.
Berdasarkan hasil penelitian, Program MBG dinilai efektif oleh para penerima manfaat maupun pemangku kepentingan.
Iwan menyampaikan bahwa "Secara umum kinerja program telah mendekati dengan ekspektasi mereka, walaupun mungkin ada catatan terkait dengan jumlah makanannya".
BRIN merekomendasikan penguatan program melalui pembangunan dashboard nasional berbasis output–outcome yang mampu mengintegrasikan standar gizi, keamanan pangan, serta sistem distribusi makanan.
Dashboard tersebut juga diharapkan mampu memantau kinerja tata kelola program secara real-time dan transparan.
Selain itu sistem jaminan mutu program perlu diperkuat melalui supervisi berbasis risiko serta fungsi quality assurance yang independen guna menjaga konsistensi standar layanan nasional.
Iwan Hermawan menekankan bahwa “Keberlanjutan program ditentukan oleh kapasitas SDM dan komunikasi publik yang efektif, melalui pelatihan berkala, pelibatan komunitas, serta strategi komunikasi yang jelas dan membuka ruang umpan balik masyarakat.”
- Penulis :
- Leon Weldrick








