
Pantau - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin menyatakan kondisi pekerja migran Indonesia di kawasan Timur Tengah masih aman dan terkendali meskipun terjadi eskalasi konflik setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Mukhtarudin usai acara penandatanganan dokumen kerja sama dengan mitra kerja di Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) di Jakarta pada Kamis, 5 Maret 2026.
Ia menegaskan bahwa "Semuanya masih dalam under control (di bawah kendali)".
Pemerintah Pantau Kondisi Pekerja Migran
Mukhtarudin mengatakan hingga saat ini belum ada seruan evakuasi dari pemerintah negara-negara di Timur Tengah maupun dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara-negara kawasan tersebut.
Ia menyebut belum ada laporan mengenai dampak signifikan yang dialami pekerja migran Indonesia akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa "Belum ada laporan juga dari pekerja migran kita yang terdampak secara mungkin harus dievakuasi dan lain-lain. Ada beberapa pekerja migran yang di Kuwait, itu bukan dampak fisik, tetapi psikologis karena trauma".
Pemerintah Indonesia terus memberikan pendampingan kepada pekerja migran yang mengalami dampak psikologis untuk membantu proses pemulihan mereka.
Kementerian P2MI juga telah membangun pusat krisis untuk memantau kondisi pekerja migran Indonesia di kawasan Timur Tengah.
Selain itu pemerintah menyediakan kode akses hotline bagi pekerja migran untuk melaporkan kondisi darurat atau masalah yang mereka alami.
Mukhtarudin menyampaikan imbauan kepada pekerja migran agar segera melapor jika menghadapi situasi darurat dengan mengatakan "Jika ada sesuatu segera kita laporkan ke kita".
Pemerintah Bersama Perwakilan RI Memantau Konflik
Kedutaan Besar Republik Indonesia juga aktif menyampaikan informasi perkembangan situasi di Timur Tengah melalui berbagai kanal media.
Pemerintah Indonesia bersama KBRI dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) terus memantau perkembangan konflik secara intensif setiap hari.
Mukhtarudin menegaskan komitmen pemerintah dengan mengatakan "Prinsipnya, negara, kami, pemerintah, bersama perwakilan kita, KBRI dan KJRI, akan all out memantau dan mengikuti perkembangan day-to-day, detik-detik eskalasi (konflik) yang terjadi di Timur Tengah".
Kementerian P2MI juga bekerja sama dengan perusahaan penempatan pekerja migran untuk memonitor pekerja yang ditempatkan di sektor formal di kawasan tersebut.
Bersama KBRI dan KJRI di negara-negara Timur Tengah, kementerian juga telah mengeluarkan imbauan mengenai langkah-langkah keamanan agar pekerja migran tetap dapat beraktivitas dengan aman.
Mukhtarudin menyebut jumlah pekerja migran Indonesia yang berada di Iran diperkirakan sekitar 100 orang.
Ia mengatakan para pekerja migran tersebut sebagian besar bekerja sebagai pekerja rumah tangga.
Mukhtarudin menjelaskan bahwa "Itu bukan penempatan kami. Itu penempatan secara mandiri karena memang Iran bukan salah satu tujuan negara penempatan".
Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, termasuk di Teheran.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan serta menimbulkan korban sipil.
Televisi Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei gugur dalam serangan tersebut.
Iran kemudian melancarkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Serangan balasan Iran juga menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi.
- Penulis :
- Shila Glorya








