
Pantau - Kementerian Kehutanan Republik Indonesia menjadikan tahun 2026 sebagai momentum pembelajaran dan penguatan koordinasi nasional untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan yang diperkirakan meningkat seiring fenomena El Nino pada 2027.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjelaskan bahwa berdasarkan penjelasan ilmiah dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG, fenomena El Nino memiliki siklus sekitar empat tahunan yang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Raja Juli Antoni mengatakan, “BMKG menjelaskan secara saintifik bahwa tahun depan akan memasuki siklus El Nino empat tahunan. Karena itu tahun ini menjadi penting sebagai pembelajaran sekaligus persiapan,” setelah apel kesiapsiagaan karhutla di Pekanbaru pada Kamis.
Ia menjelaskan bahwa saat El Nino terjadi pada 2023 luas kebakaran hutan dan lahan mencapai sekitar 1,1 juta hektare.
Ia menambahkan bahwa pada periode sebelumnya tahun 2019 luas karhutla bahkan mencapai sekitar 1,6 juta hektare.
Data tersebut menunjukkan adanya tren penurunan luas kebakaran hutan dan lahan dalam beberapa tahun terakhir.
Tren Penurunan Luas Karhutla
Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2024 luas karhutla tercatat sekitar 376.805 hektare.
Pada 2025 luas karhutla berhasil ditekan menjadi 359.619 hektare pada periode awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Raja Juli Antoni menyatakan, “Ini berkat kerja sama semua pihak, baik kementerian dan lembaga di tingkat pusat maupun pemerintah daerah.”
Kolaborasi Lintas Lembaga dan Masyarakat
Pemerintah berupaya memastikan infrastruktur penanganan kebakaran hutan dan lahan serta koordinasi lintas lembaga semakin kuat sebelum periode El Nino kembali terjadi.
BMKG berperan menyediakan data dan prediksi cuaca yang kemudian dimanfaatkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB untuk melakukan operasi modifikasi cuaca guna mencegah meluasnya kebakaran.
Pengendalian karhutla juga melibatkan personel lapangan dari Tentara Nasional Indonesia TNI dan Kepolisian Negara Republik Indonesia Polri.
Partisipasi masyarakat turut menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Kelompok yang terlibat antara lain Masyarakat Peduli Api, Pramuka, mahasiswa, masyarakat adat, hingga Kelompok Tani Hutan.
Kelompok masyarakat tersebut bekerja secara gotong royong di berbagai daerah untuk mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan dan lahan.
- Penulis :
- Arian Mesa







