Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Prognosa Nilai Kebijakan Tarif Resiprokal AS Berpotensi Buka Peluang Strategis bagi Indonesia di ASEAN

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Prognosa Nilai Kebijakan Tarif Resiprokal AS Berpotensi Buka Peluang Strategis bagi Indonesia di ASEAN
Foto: (Sumber : Director Prognosa Research & Consulting Garda Maharsi memaparkan hasil kajian strategis dalam konferensi pers “US–Indonesia Agreement on Reciprocal Tariff: Analisis Dampak Strategis Bagi Industri di Indonesia” di Jakarta. (ANTARA/HO - Prognosa Research & Consulting).)

Pantau - Lembaga riset dan konsultansi Prognosa Research & Consulting menilai kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) berpotensi menempatkan Indonesia pada posisi strategis di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN.

Penilaian tersebut disampaikan Director Prognosa Research & Consulting Garda Maharsi dalam keterangannya di Jakarta pada Jumat.

Garda mengatakan, "Perjanjian ini menghadirkan peluang sekaligus risiko yang perlu diantisipasi secara cermat oleh pemerintah dan pelaku industri di Tanah Air".

Peluang dan Risiko bagi Industri Nasional

Menurut kajian strategis Prognosa Research & Consulting, kebijakan tersebut berpotensi membuka ruang kompetitif yang signifikan bagi Indonesia.

Peluang tersebut terutama dapat dirasakan pada sektor tekstil serta berbagai komoditas unggulan nasional lainnya.

Dalam kajian tersebut juga dibahas dampak hilirisasi ekspor Indonesia ke Amerika Serikat yang menyebabkan penurunan tarif ekspor dari sebelumnya 32 persen menjadi 19 persen.

Selain itu terdapat komitmen pembelian produk Amerika Serikat oleh Indonesia senilai 38,4 miliar dolar Amerika Serikat.

Kajian tersebut juga menyoroti penyesuaian kebijakan non-tarif serta implikasinya terhadap daya saing industri dalam negeri, ketergantungan terhadap impor, serta agenda hilirisasi yang sedang dijalankan pemerintah.

Garda mengatakan kewajiban pembelian produk Amerika Serikat tersebut mencakup sektor energi, dirgantara, dan pertanian.

Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi mengubah struktur perdagangan nasional secara fundamental apabila tidak dikelola dengan kebijakan mitigasi yang tepat.

Garda mengatakan, "Penting untuk Pemerintah memastikan sektor terdampak didukung dengan komitmen transfer pengetahuan dan transfer teknologi, sejalan dengan agenda penciptaan nilai tambah ekonomi".

Perlunya Strategi Penguatan Daya Saing

Garda menyarankan pemerintah Indonesia untuk mengambil sejumlah langkah strategis guna menjaga daya saing industri nasional.

Langkah tersebut antara lain melakukan sinkronisasi standar internasional, membangun industri logistik yang kuat, serta menyediakan pembiayaan berkelanjutan.

Garda mengatakan, "Untuk selamat, sebaiknya Pemerintah sinkronisasi standar luar, bangun industri logistik, dan pembiayaan berkelanjutan. Perjanjian semacam ini bisa jadi proses integrasi ke Global Value Chains, asalkan daya dukung sektoralnya dipenuhi".

Sementara itu Wakil Ketua Umum Public Affairs Forum Indonesia sekaligus Director of Public Affairs Praxis Sofyan Herbowo menanggapi keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat terkait tarif perdagangan.

Mahkamah Agung Amerika Serikat sebelumnya membatalkan tekanan tarif Amerika Serikat dan menetapkan angka maksimal sebesar 10 persen.

Sofyan mengatakan Indonesia tidak berada pada posisi untuk mengomentari keputusan tersebut karena merupakan mekanisme domestik Amerika Serikat.

Sofyan mengatakan, "Itu mekanisme domestik mereka yang kita tidak boleh intervensi".

Ia menambahkan komunitas Public Affairs Forum Indonesia ingin memaksimalkan kebijakan tarif tersebut agar memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi kepentingan nasional.

Sofyan mengatakan, "Di sini menjadi penting bagi Indonesia bagaimana memanfaatkan peluang baru dan juga keuntungan yang bisa dimaksimalkan dari kebijakan ini".

Penulis :
Aditya Yohan