
Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan banjir yang sempat menggenangi lima kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tidak hanya disebabkan oleh tingginya intensitas hujan tetapi juga diperparah oleh rusaknya talud penahan aliran sungai.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan hujan deras yang terjadi di wilayah tersebut merusak talud sehingga air meluap dan menyebabkan banjir pada Selasa, 3 Maret.
Akibat peristiwa tersebut banjir menggenangi lima kecamatan di Kabupaten Klaten.
Informasi yang dihimpun Direktorat Koordinator dan Pengendalian Operasi BNPB menyebutkan sebanyak 121 warga sempat mengungsi.
Sebagian warga yang mengungsi menempati posko taktis yang disiapkan pemerintah daerah di Balai Desa Cawas.
BNPB juga mengonfirmasi bahwa lebih dari seribu rumah warga terdampak banjir tersebut.
Fasilitas Umum Ikut Terdampak
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas umum juga dilaporkan terdampak banjir.
Fasilitas yang terdampak meliputi 13 fasilitas pendidikan.
Terdapat pula satu fasilitas kesehatan yang ikut terdampak.
Sebanyak 19 fasilitas ibadah juga dilaporkan terkena dampak banjir.
Selain itu satu kantor kepolisian sektor turut terdampak dalam peristiwa tersebut.
Pada Rabu, 4 Maret, banjir mulai berangsur surut dan para pengungsi yang sebelumnya meninggalkan rumahnya telah kembali ke tempat tinggal masing-masing.
BNPB Imbau Peningkatan Kesiapsiagaan
Abdul Muhari tidak menjelaskan secara rinci kondisi kerusakan talud yang terjadi namun menegaskan bahwa kejadian tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan masyarakat di Kabupaten Klaten.
Ia menekankan pentingnya penguatan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Penguatan tersebut mencakup kesiapan personel serta ketersediaan peralatan yang memadai.
Rencana kedaruratan juga perlu dipersiapkan dengan baik agar penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Abdul Muhari juga mengimbau masyarakat bersama pemerintah daerah untuk melakukan langkah mitigasi sederhana.
Langkah tersebut antara lain membersihkan saluran drainase serta memeriksa kondisi talud dan tanggul di sepanjang aliran sungai.
Masyarakat juga disarankan memangkas dahan pohon yang rimbun untuk mengurangi risiko pohon tumbang saat terjadi cuaca ekstrem.
Ia menjelaskan langkah mitigasi tersebut penting dilakukan karena adanya potensi cuaca ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sebelumnya mengeluarkan peringatan bahwa pada 5 hingga 7 Maret 2026 sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Wilayah Pulau Jawa menjadi salah satu daerah yang berpotensi mengalami hujan lebat yang dapat disertai angin kencang.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti







