
Pantau - Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun mendorong agar lebih banyak mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) di Provinsi Hunan, China.
Dorongan tersebut khususnya diarahkan untuk studi di Central South University di Changsha.
Djauhari menyampaikan hal tersebut saat bertemu dengan Ketua Dewan Universitas Central South University An Shi dalam rangkaian kunjungan kerja di Changsha pada Senin, 9 Maret 2026.
"Saya senang dapat bertemu dan berbicara langsung dengan pihak dari Central South University, karena CSU punya reputasi yang sangat baik, termasuk dalam bidang teknik metalurgi, material maju, transportasi, dan kedokteran," ujar Djauhari.
Central South University merupakan universitas yang didanai oleh Pemerintah China.
Universitas tersebut berdiri pada 2020 melalui penggabungan tiga lembaga pendidikan tinggi.
Tiga lembaga tersebut yaitu Hainan Medical University, Changsha Railway University, dan Central South University of Technology.
Sejalan dengan Prioritas Pembangunan Indonesia
Djauhari menilai program pendidikan yang ditawarkan oleh universitas tersebut sejalan dengan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia di Indonesia.
Program tersebut juga dinilai selaras dengan prioritas pembangunan nasional Indonesia, khususnya dalam bidang hilirisasi industri.
"Program program yang ditawarkan CSU juga sangat terkait dengan pengembangan sumber daya manusia di Indonesia dan sejalan dengan prioritas pembangunan Indonesia saat ini, khususnya hilirisasi termasuk dengan mengirimkan pegawai pemerintah muda bidang STEM untuk belajar di CSU," kata Djauhari.
Ia menilai terdapat potensi besar untuk memperluas kerja sama pendidikan antara Central South University dan Indonesia.
Hal tersebut juga didukung oleh meningkatnya jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di China.
"Saat ini mahasiswa Indonesia yang belajar di China sudah mencapai 20.000 orang. Saya yakin jumlah mahasiswa Indonesia di CSU juga akan meningkat pada masa mendatang, terlebih pemerintah saat ini memerlukan peningkatan talenta di bidang STEM," ujarnya.
Universitas Unggul di Bidang Pertambangan dan Metalurgi
Ketua Dewan Universitas Central South University An Shi menjelaskan bahwa universitas tersebut memiliki sekitar 36.000 mahasiswa sarjana dan 26.000 mahasiswa pascasarjana.
Dari jumlah tersebut terdapat sekitar 2.200 mahasiswa internasional.
An Shi mengatakan universitas tersebut unggul dalam bidang pengembangan dan pemanfaatan sumber daya mineral serta teknologi metalurgi.
Universitas tersebut juga memiliki sistem penelitian dan fasilitas transportasi rel yang maju.
Selain itu universitas tersebut juga dikenal sebagai salah satu pusat asal usul kedokteran modern di China melalui Xiangya School of Medicine.
"Universitas kami unggul dalam bidang pengembangan dan pemanfaatan sumber daya mineral serta teknologi metalurgi, serta memiliki sistem penelitian dan fasilitas transportasi rel yang berada di garis depan dan juga menjadi salah satu pusat asal usul kedokteran modern di China yaitu Xiangya School of Medicine," ungkap An Shi.
Dalam Soft Science Ranking 2025, program studi pertambangan di Central South University menempati peringkat pertama dunia.
- Program studi metalurgi berada di peringkat kedua dunia.
- Program studi teknik mesin juga masuk dalam jajaran teratas dunia.
Secara nasional, program studi seperti mineral processing, metalurgi, teknik pertambangan, dan material science berada pada peringkat A+ atau sepuluh besar nasional.
An Shi juga menyampaikan bahwa terdapat 534 dosen dari universitas tersebut yang masuk dalam daftar ilmuwan paling berpengaruh di dunia.
Daftar tersebut disusun oleh Universitas Stanford yang memilih dua persen ilmuwan terbaik di dunia.
Jumlah tersebut menempatkan Central South University pada posisi ketujuh di China daratan.
Mahasiswa Indonesia Harap Bawa Inovasi ke Tanah Air
Salah satu mahasiswa Indonesia di universitas tersebut adalah M Apriansyah yang sedang menempuh pendidikan magister di bidang energi terbarukan.
"Saya berharap dapat memperoleh banyak pembelajaran saat bersekolah di CSU ini sehingga kita dapat terus maju lebih jauh dalam bidang teknologi dan inovasi sehingga saat kembali ke Indonesia dapat lebih berkontribusi," ujar Apriansyah.
Apriansyah sebelumnya menempuh pendidikan diploma di Provinsi Guangxi di China.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan sarjana di Beijing sebelum melanjutkan studi pascasarjana di Changsha.
Apriansyah juga berharap dapat menjadi penghubung kerja sama antara Indonesia dan China di masa depan.
"Pada saat yang sama saya juga berharap dapat menjadi penghubung antara Indonesia dan China sehingga ke depan saya harap bisa berkolaborasi lebih lain," katanya.
Indonesia diketahui merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Provinsi Hunan di kawasan Asia Tenggara.
Nilai perdagangan antara Indonesia dan Hunan pada tahun 2025 mencapai 3,23 miliar dolar Amerika Serikat.
Pertumbuhan perdagangan tersebut didorong oleh ekspor produk yang disebut sebagai tiga produk baru dari Hunan ke Indonesia.
Produk tersebut meliputi kendaraan listrik, baterai lithium-ion, dan produk fotovoltaik atau panel surya.
Dalam sebelas bulan pertama tahun 2025, ekspor produk tersebut dari Hunan ke Indonesia meningkat hingga 724 persen.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







