
Pantau - Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyatakan tradisi "Andilan Kebo" mengajarkan pentingnya menjaga nilai gotong royong sebagai identitas budaya Betawi di tengah kehidupan kota metropolitan.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan yang diselenggarakan Forum Betawi Rempug (FBR) di Taman Kerempugan Korwil FBR, Jakarta Timur, Kamis.
“Dengan semangat kebersamaan melalui 'Andilan Kebo' ini, saya jujur agak terkejut. Ternyata di Jakarta masih ada kegiatan seperti ini. Saya jadi ingat masa kecil saya di Kemayoran, ketika masyarakat saling berbagi sesuai kemampuan,” ungkapnya.
Tradisi "Andilan Kebo" merupakan kegiatan patungan warga untuk membeli hewan ternak yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sesuai kontribusi masing-masing.
Nilai Kebersamaan dan Keadilan Sosial
Rano Karno menjelaskan besaran iuran dalam tradisi tersebut tidak ditentukan dan disesuaikan dengan kemampuan warga, sehingga mencerminkan nilai keadilan dan kebersamaan.
“Yang patungannya besar mendapat lebih banyak, yang kecil mendapat lebih sedikit. Namun, esensinya adalah kebersamaan sebagai tetangga. Semua berpartisipasi sesuai kemampuan," ujarnya.
Menurut dia, tradisi tersebut memiliki nilai historis dan filosofi gotong royong yang masih relevan hingga saat ini.
Perkuat Solidaritas di Momentum Lebaran
Rano juga menyoroti pentingnya menjaga solidaritas sosial di tengah kondisi masih adanya masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, termasuk konsumsi daging.
Momentum Idul Fitri dan tradisi "Andilan Kebo" dinilai menjadi sarana untuk memperkuat kepedulian sosial antarwarga.
“Ini menjadi komitmen kami agar tradisi ini terus berlangsung setiap tahun,” kata dia.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen menjaga keberlangsungan tradisi budaya Betawi sebagai bagian dari kekayaan sosial di ibu kota.
- Penulis :
- Aditya Yohan








