
Pantau - China menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan negara-negara Asia Tenggara dalam mengatasi isu keamanan energi di tengah meningkatnya ketegangan global akibat konflik di Timur Tengah.
Konflik Timur Tengah Picu Ancaman Energi
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan situasi di Timur Tengah telah memberikan dampak serius terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
"Situasi di Timur Tengah memberikan pukulan berat bagi keamanan energi global. Negara-negara terkait perlu segera menghentikan operasi militer dan mencegah gejolak regional berdampak lebih lanjut pada pertumbuhan global," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa China siap memperkuat koordinasi dengan negara-negara Asia Tenggara untuk menghadapi tantangan tersebut.
"China siap memperkuat koordinasi dan kolaborasi dengan negara-negara Asia Tenggara dan bersama-sama mengatasi masalah keamanan energi," ujarnya.
Ketegangan meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada terganggunya pasokan energi dari kawasan Teluk.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran turut memperburuk situasi karena jalur tersebut merupakan rute utama distribusi minyak dunia.
Dampak Ekonomi dan Pasokan Global
Gangguan pasokan energi juga berdampak pada sektor lain seperti pupuk, dengan harga urea dilaporkan naik hingga 1,58 persen dan melampaui 610 dolar AS untuk pertama kalinya sejak Oktober 2022.
Selain itu, konflik yang berlangsung dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.200 orang dan memicu serangan balasan berupa drone dan rudal di kawasan.
Lin Jian menambahkan bahwa China tetap berperan sebagai produsen dan konsumen utama pupuk serta berkontribusi dalam perdagangan global.
Ia menyebut China tetap mengekspor pupuk ke pasar internasional setelah memastikan kebutuhan domestik terpenuhi.
Informasi tambahan menyebutkan bahwa Selat Hormuz selama ini menangani sekitar 20 juta barel minyak per hari atau sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








