Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Pakar Pendidikan Tegaskan Pembatasan Medsos Anak Harus Diiringi Literasi Digital

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pakar Pendidikan Tegaskan Pembatasan Medsos Anak Harus Diiringi Literasi Digital
Foto: (Sumber : Pakar pendidikan Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto Prof Fauzi. ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

Pantau - Pakar pendidikan Universitas Islam Negeri Saifuddin Zuhri Purwokerto menilai pembatasan media sosial bagi anak harus disertai penguatan literasi digital agar efektif dan berkelanjutan.

Pembatasan Perlu Diimbangi Edukasi Digital

Prof Fauzi menyatakan era digital tidak bisa dihindari sehingga pendekatan yang tepat adalah mengelola penggunaannya secara bijak.

“Era digital ini realitas yang tidak bisa dihindari. Kita tidak dalam kerangka menolak atau melawan, tetapi bagaimana menyikapinya secara bijak karena ini bagian dari perkembangan peradaban manusia,” ungkapnya di Purwokerto, Sabtu.

Ia menjelaskan bahwa teknologi memiliki dua sisi, yakni memberikan kemudahan akses informasi sekaligus berpotensi menimbulkan dampak negatif jika tidak diawasi.

Menurutnya, pembatasan media sosial merupakan langkah preventif sekaligus kuratif untuk mengatasi dampak yang sudah muncul di masyarakat.

“Pembatasan ini penting sebagai langkah preventif bagi generasi masa depan, sekaligus kuratif karena dampak negatifnya sudah nyata terjadi,” katanya.

Pentingnya Kesadaran Fungsi dan Dampak

Fauzi menekankan bahwa literasi digital harus mencakup kesadaran fungsi dan kesadaran dampak dalam penggunaan teknologi.

Ia menilai selama ini masyarakat lebih fokus pada kemampuan teknis, namun masih lemah dalam memahami risiko penggunaan teknologi.

“Selama ini kita relatif kuat dalam mendorong kemampuan penggunaan teknologi, tetapi masih lemah dalam membangun kesadaran terhadap dampak yang ditimbulkan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengaturan terhadap produsen dan distribusi konten agar perlindungan anak tidak hanya dibebankan pada pengguna.

“Jangan sampai anak dibatasi, tetapi produsen konten terus bebas tanpa filter. Ini berpotensi menjadikan anak sebagai pasar dari konten-konten yang merusak,” katanya.

Menurutnya, peran orang tua, pendidik, dan masyarakat sangat penting dalam membangun budaya digital yang sehat agar anak mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

Penulis :
Ahmad Yusuf