
Pantau - Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia meminta pemerintah mempertimbangkan penarikan pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon setelah gugurnya sejumlah prajurit TNI akibat serangan Israel di sekitar markas UNIFIL.
Pernyataan MPR dan Desakan Evaluasi
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyampaikan pernyataan tersebut dalam jumpa pers di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta pada Selasa.
Ia menegaskan bahwa penarikan pasukan perlu dipertimbangkan apabila tidak ada jaminan keamanan bagi prajurit Indonesia yang bertugas dalam misi perdamaian.
"Kalau tidak ada jaminan keselamatan bagi pasukan misi perdamaian kita yang merupakan pasukan penjaga perdamaian maka MPR meminta agar pemerintah mempertimbangkan untuk menarik seluruh pasukan yang ada di Lebanon," ungkapnya.
Menurut Muzani, langkah tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mewajibkan negara melindungi seluruh warga negara.
Ia menilai wilayah konflik seperti Lebanon selatan sangat berbahaya bagi keselamatan prajurit TNI sehingga perlu evaluasi menyeluruh terhadap keberlanjutan misi.
MPR juga mengutuk keras serangan yang menyebabkan korban jiwa dan menilai tindakan Israel sebagai "sangat biadab".
Selain itu, MPR mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menggelar sidang penyelidikan serta menjatuhkan sanksi terhadap Israel.
Kronologi Serangan dan Korban Prajurit
Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon gugur akibat tembakan artileri di sekitar posisi kontingen UNIFIL Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan pada 29 Maret.
Dalam insiden tersebut, tiga prajurit lainnya yakni Rico Pramudia, Bayu Prakoso, dan Arif Kurniawan mengalami luka-luka.
Sehari kemudian pada 30 Maret, dua prajurit Indonesia kembali gugur dalam serangan terhadap konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan, Lebanon selatan.
Dua prajurit yang gugur tersebut adalah Kapten Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan.
Sementara itu, dua prajurit lainnya yakni Letnan Satu Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto mengalami luka-luka dalam insiden kedua.
MPR menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga prajurit yang gugur dan menyebut mereka sebagai putra terbaik bangsa yang menjalankan tugas berdasarkan mandat Dewan Keamanan PBB.
MPR juga mengusulkan agar pemerintah memberikan penghargaan atas jasa dan pengabdian para prajurit yang gugur dalam misi perdamaian tersebut.
- Penulis :
- Shila Glorya








