HOME  ⁄  Nasional

Ketegangan Global Meningkat, BNPT dan DPR Tekankan Kewaspadaan Nasional di Tengah Ancaman Radikalisme dan Konflik Iran-AS

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Ketegangan Global Meningkat, BNPT dan DPR Tekankan Kewaspadaan Nasional di Tengah Ancaman Radikalisme dan Konflik Iran-AS
Foto: Kepala BNPT Eddy Hartono bersama jajaran sebelum rapat dengar pendapat bersama Komisi XIII DPR RI di Jakarta, Senin 6/4/2026 (sumber: BNPT RI)

Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menekankan pentingnya kewaspadaan kolektif di tengah dinamika global yang semakin kompleks dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XIII DPR RI di Jakarta pada Senin 6 April 2026.

Kepala BNPT Eddy Hartono menyatakan bahwa situasi global saat ini menuntut peran aktif seluruh elemen bangsa dalam menjaga stabilitas nasional.

Ia mengungkapkan, "Ini tugas kita bersama untuk menjaga, apalagi di tengah dinamika global yang sangat kompleks saat ini."

BNPT juga telah merumuskan sejumlah langkah strategis untuk merespons perkembangan geopolitik internasional yang dinilai berpotensi memengaruhi kondisi keamanan dalam negeri.

Langkah tersebut meliputi peningkatan koordinasi antar-instrumen pertahanan dan keamanan serta penguatan Pusat Analisis dan Pengendalian Krisis.

Ancaman Digital dan Penguatan Strategi Nasional

Anggota Komisi XIII DPR RI Ahmad Basarah menyoroti bahwa ketegangan global kini tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga merambah ke ruang digital melalui propaganda dan media sosial.

Ia mendorong BNPT untuk mengadopsi pendekatan yang lebih inovatif dalam menghadapi ancaman tersebut.

Rapat tersebut menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat peran BNPT dalam upaya kontra radikalisasi melalui berbagai bentuk edukasi kepada masyarakat.

Langkah ini ditujukan untuk memastikan perlindungan maksimal dari ancaman radikalisme baik di dunia nyata maupun digital.

Rapat dengar pendapat antara BNPT dan Komisi XIII DPR RI tersebut dilaksanakan secara tertutup.

Gencatan Senjata Iran-AS dan Ancaman Militer

Di tengah dinamika global, Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada Selasa 7 April 2026.

Gencatan senjata ini bertujuan membuka jalan menuju kesepakatan akhir untuk mengakhiri konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari.

Konflik tersebut dilaporkan telah menyebabkan banyak korban tewas dan luka-luka.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa seluruh kekuatan militernya akan tetap siaga di kawasan sekitar Iran.

Ia menegaskan, "tetap berada di dalam dan di sekitar Iran hingga kesepakatan nyata yang dicapai sepenuhnya dipatuhi."

Trump juga memperingatkan bahwa kegagalan dalam memenuhi kesepakatan akan memicu eskalasi militer yang lebih besar.

Ia menegaskan, "Jika karena alasan apa pun hal itu tidak terjadi, yang sangat kecil kemungkinannya, maka 'penembakan akan dimulai' dengan skala yang lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari yang pernah dilihat sebelumnya."

Ia juga menyatakan bahwa kesepakatan terkait pelarangan senjata nuklir sebenarnya telah lama tercapai.

Ia menambahkan, "Tidak ada senjata nuklir dan Selat Hormuz akan terbuka serta aman."

Trump menyampaikan bahwa militer Amerika Serikat saat ini berada dalam kondisi siaga sambil menunggu perkembangan berikutnya.

Ia mengatakan, "Untuk sementara, militer besar kami sedang mempersiapkan diri dan beristirahat, serta menantikan langkah berikutnya."

Pengumuman gencatan senjata tersebut disampaikan kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan penerimaan kesepakatan oleh Iran.

Trump sebelumnya juga memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi "kehancuran seluruh peradaban" jika tidak memenuhi tuntutan yang diajukan.

Penulis :
Shila Glorya