
Pantau - Kementerian Perindustrian mempercepat implementasi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil pada industri hilir kelapa sawit melalui skema Komite Akreditasi Nasional guna memperkuat tata kelola berkelanjutan dan meningkatkan daya saing global.
Strategi Perkuat Tata Kelola dan Ekspor
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis menjaga keberlanjutan industri sekaligus memperluas penerimaan produk sawit Indonesia di pasar internasional.
Ia mengatakan, "Kinerja positif juga ditunjukkan oleh sektor industri agro melalui Indeks Kepercayaan Industri Maret 2026 yang masih berada pada fase ekspansi di level 51,86."
Menurutnya, implementasi sertifikasi ISPO pada industri hilir atau SIPO Hilir menjadi penting dalam memperkuat struktur industri berbasis keberlanjutan.
Industri kelapa sawit sendiri dinilai memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional dengan luas lahan lebih dari 16 juta hektare dan produksi CPO mencapai 51,66 juta ton pada 2025.
Agus menegaskan, "Dengan luas lahan lebih dari 16 juta hektare dan produksi CPO mencapai 51,66 juta ton pada tahun 2025 sektor ini memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia."
Kontribusi Besar terhadap Ekonomi dan Tenaga Kerja
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menyebut ekspor kelapa sawit dan produk turunannya pada 2025 mencapai 44,65 miliar dolar AS.
Sementara impor tercatat sebesar 1,417 miliar dolar AS sehingga menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar 43,23 miliar dolar AS.
Ia mengungkapkan, "Capaian ini jadi bukti konkret keberhasilan kebijakan hilirisasi dalam meningkatkan nilai tambah sekaligus menciptakan multiplier effect bagi perekonomian."
Selain itu, sektor sawit juga menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sebagai informasi tambahan, percepatan sertifikasi ISPO diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit berkelanjutan di tingkat global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








