
Pantau - Pemerintah melalui Kementerian Sosial tengah mengkaji opsi penebalan bantuan sosial (bansos) sebagai bagian dari stimulus ekonomi pada 2026 di tengah ketidakpastian global akibat ketegangan di Timur Tengah.
Masih Tahap Simulasi dan Koordinasi
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan kebijakan tersebut masih dalam tahap awal dan belum menjadi keputusan resmi pemerintah.
"Sudah ada semacam pembahasan ya, belum keputusan. Baru simulasi-simulasi untuk memberikan semacam stimulus ekonomi. Stimulus ekonomi itu macam-macam kebijakannya, salah satunya biasanya itu adalah penebalan atau juga penambahan penerima manfaat Bansos," ungkapnya di Jakarta, Senin.
Ia menegaskan hingga saat ini belum ada keputusan dari Presiden terkait implementasi kebijakan tersebut.
Menurutnya, skema penebalan bansos umumnya digunakan untuk menjaga daya beli masyarakat pada periode tertentu yang membutuhkan intervensi pemerintah.
Bansos Reguler Tetap Berjalan
Saifullah Yusuf memastikan program bansos reguler tetap berjalan bagi sekitar 18 juta keluarga penerima manfaat.
"Jadi itu kalau belajar dari tahun lalu. Nah apakah tahun ini seperti itu kita tunggu kebijakan dari Bapak Presiden," ujarnya.
Pemerintah saat ini tengah mempersiapkan penyaluran bansos triwulan kedua yang ditargetkan mulai pekan ketiga April 2026.
Program bansos tersebut meliputi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebesar Rp600 ribu per triwulan dan Program Keluarga Harapan (PKH) dengan besaran sesuai kategori penerima.
"Mudah-mudahan di minggu ketiga sudah bisa mulai salur, Insya Allah mudah-mudahan," katanya.
- Penulis :
- Aditya Yohan








