
Pantau - Program Kampung Pancasila di Surabaya menjadi upaya merawat nilai kemanusiaan dan relasi sosial warga di tengah pesatnya pembangunan kota modern.
Program ini menghadirkan kehidupan kampung sebagai ruang interaksi sosial melalui sapaan, percakapan, dan gotong royong antarwarga.
"Kampung Pancasila, dengan segala tantangan dan potensinya, adalah upaya untuk memastikan bahwa di balik gedung-gedung tinggi dan jalan-jalan lebar, masih ada ruang bagi manusia untuk saling terhubung," demikian disampaikan dalam program tersebut.
Pemerintah Kota Surabaya melibatkan lebih dari 1.300 RW dengan pendampingan Aparatur Sipil Negara di tiap wilayah sebagai bentuk intervensi langsung ke masyarakat.
Nilai-nilai kebangsaan dihadirkan dalam praktik sehari-hari hingga tingkat RT dan RW, sekaligus menggeser fokus pembangunan dari aspek fisik ke relasi sosial.
Program Kampung Pancasila juga mendorong toleransi melalui interaksi lintas agama serta memperkuat solidaritas sosial yang sebelumnya terbangun saat pandemi COVID-19.
Di beberapa wilayah, warga mampu mengelola dana sosial secara mandiri hingga puluhan juta rupiah, menjadikan kampung sebagai unit sosial dan ekonomi yang tangguh.
Namun, terdapat sejumlah tantangan seperti risiko formalisasi tanpa partisipasi aktif warga, ketimpangan kapasitas antarwilayah, serta potensi menurunnya partisipasi masyarakat.
Selain itu, digitalisasi dan perubahan gaya hidup generasi muda menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keberlanjutan program.
Program ini dinilai perlu terintegrasi dengan kebijakan ekonomi untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan.
Penguatan kapasitas warga melalui pelatihan dan pendampingan menjadi langkah penting, disertai penyesuaian kebijakan sesuai karakter masing-masing wilayah.
Integrasi dengan ekonomi mikro serta keterlibatan generasi muda disebut sebagai kunci keberhasilan program ke depan.
Kampung Pancasila berpotensi menjadi model pembangunan kota berbasis komunitas di Indonesia dengan menekankan bahwa pembangunan tidak hanya bertumpu pada infrastruktur, tetapi juga pada relasi sosial antarwarga.
- Penulis :
- Gerry Eka








