
Pantau - Kementerian Lingkungan Hidup mencatat tujuh titik utama lahan gambut dengan tinggi muka air kurang dari 80 sentimeter yang berpotensi tinggi memicu kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau.
Potensi Kebakaran dan Ancaman Kekeringan
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyatakan kondisi gambut yang mengering sangat rentan terbakar, terlebih dengan dominasi lahan gambut di wilayah Riau.
"Potensi kekeringan ini akan diperparah di daerah dengan dominasi mangrove air gambut. Cukup dengan hanya satu pemantik saja maka kebakaran hutan dan lahan akan terjadi dengan berat dan besar. Untuk itu kesiapan lebih awal menjadi semakin dimintakan," ujarnya.
Ia menjelaskan curah hujan tahun ini diproyeksikan menjadi yang terendah dalam 30 tahun terakhir, yakni sekitar 100 milimeter.
Kondisi tersebut mengingatkan pada kebakaran besar tahun 1996–1997 yang menghanguskan ratusan hingga jutaan hektare hutan.
Langkah Antisipasi dan Kesiapan Lapangan
Kementerian LH meminta kesiapan berbagai pihak, termasuk Manggala Agni, PT Pertamina Hulu Rokan, GAPKI, dan APHI untuk memperkuat penanggulangan karhutla.
"Saya sangat berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti pada takaran seremonial saja. Kita sangat perlu melakukan langkah-langkah rencana operasional taktis dengan semakin memperbanyak pertemuan-pertemuan pada jajaran-jajaran di tingkat tapak dipimpin wali kota dan bupati di tempatnya masing-masing," ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemetaan detail terhadap lokasi rawan, termasuk wilayah yang tidak terpantau tinggi muka air gambutnya.
Selain itu, pemerintah mendorong pengaktifan kembali masyarakat peduli api serta pembentukan brigadir api oleh perusahaan pemegang konsesi.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat deteksi dini dan mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di wilayah rawan.
- Penulis :
- Aditya Yohan







