
Pantau - Sebanyak 62 warga Suku Badui di Kabupaten Lebak, Banten, menjadi korban gigitan ular berbisa jenis Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma) sepanjang tahun 2025, dengan 11 orang di antaranya meninggal dunia akibat keterlambatan penanganan medis.
Aktivitas di Hutan Jadi Pemicu Risiko Tinggi, Penanganan Medis Terkendala Akses
Masyarakat Badui yang sehari-hari beraktivitas di ladang dan hutan, seperti mencari kayu dan bercocok tanam, kerap berhadapan langsung dengan semak dan ilalang—habitat utama ular tanah.
Tingginya angka kematian disebabkan oleh keterlambatan penanganan medis, antara lain karena tidak tersedianya serum anti bisa ular di lokasi terdekat, keterlambatan laporan kasus, serta akses informasi dan transportasi yang terbatas dari pedalaman menuju fasilitas kesehatan.
Saat ini terdapat sekitar 11.600 warga Badui yang tersebar di 68 perkampungan, seluruhnya tergolong populasi berisiko tinggi terhadap gigitan ular berbisa.
Pemerintah Siagakan Serum Anti Bisa dan Pos Kesehatan di Wilayah Badui
Sebagai respons, Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak bersama Sahabat Relawan Indonesia (SRI) telah menyiapkan langkah-langkah penanganan darurat.
Tiga poskesdes Klinik SRI disiagakan di wilayah:
Ciboleger
Nangerang
Cijahe
Selain itu, lima puskesmas penyangga di sekitar wilayah Badui—Cisimeut, Cirinten, Bojongmanik, Muncang, dan Sobang—telah dilengkapi dengan 5–10 vial serum anti bisa ular di setiap fasilitasnya.
Koordinator SRI, Muhammad Arif Kirdiat, mengimbau warga untuk segera melapor jika terjadi kasus gigitan.
"Jika ada yang menjadi korban gigitan ular berbisa, segera lapor ke petugas medis di poskesdes," ungkapnya.
Sekretaris Desa Kanekes, Medi, mengonfirmasi bahwa persediaan serum kini sudah tersedia dan mengucapkan terima kasih atas bantuan pemerintah daerah.
Kepala Dinas Kesehatan Lebak, Eka Darmana Putra, menegaskan bahwa seluruh puskesmas penyangga telah terpenuhi kebutuhan serum anti bisa.
Dengan langkah penanganan ini, pemerintah berharap dapat mengurangi angka kematian akibat gigitan ular di wilayah adat Badui dan memperkuat respons medis di daerah terpencil.
- Penulis :
- Gerry Eka







