
Pantau - Tim arkeolog mengumumkan penemuan kompleks satwa liar hasil peliharaan buatan tertua di China, berasal dari situs Reruntuhan Yin di Anyang, Provinsi Henan, yang diperkirakan telah ada lebih dari 3.000 tahun lalu pada masa Dinasti Shang.
Penemuan ini menunjukkan bahwa bangsawan Dinasti Shang kemungkinan telah memelihara dan mengelola berbagai satwa liar, jauh sebelum konsep kebun binatang kerajaan dikenal di Eropa.
Penelitian dilakukan setelah ditemukan banyak sisa tulang-belulang satwa dalam 19 lubang pengorbanan di zona makam kerajaan Reruntuhan Yin.
Reruntuhan Yin dikenal sebagai situs ibu kota terakhir Dinasti Shang yang tercatat dalam sejarah Tiongkok, berdiri sekitar 1600 SM–1046 SM.
Koleksi Satwa dan Bukti Pemeliharaan Terorganisasi
Di dalam lubang-lubang tersebut, ditemukan tulang dari berbagai spesies, seperti kerbau air bertanduk pendek, rusa, serigala, harimau, macan tutul, rubah, kambing gunung, babi hutan, hingga landak.
Selain itu, ada pula tulang dari lima jenis burung: angsa, bangau, soang, elang alap-alap, dan rajawali.
Li Xiaomeng, asisten peneliti dari Institut Arkeologi Akademi Ilmu Pengetahuan Sosial China, menyatakan bahwa satwa-satwa tersebut kemungkinan besar bukan hasil perburuan acak.
Ia menjelaskan bahwa beberapa hewan tampaknya dipelihara secara sengaja di taman atau tempat penangkaran milik kalangan raja atau bangsawan tinggi Dinasti Shang.
Petunjuk penting atas dugaan tersebut adalah penemuan lonceng perunggu kecil yang dipasang di leher beberapa hewan.
Total 29 lonceng perunggu ditemukan tersebar di 13 dari 19 lubang pengorbanan.
Sistem Logistik dan Ritual Persembahan Dinasti Shang
Niu Shishan, pemimpin proyek penggalian dan peneliti senior dari institut tersebut, menyebut temuan ini sebagai bukti adanya sistem pemeliharaan hewan yang kompleks.
“Keberadaan koleksi satwa liar dalam jumlah besar serta perlakuan yang terstandardisasi terhadap hewan-hewan ini menunjukkan adanya jaringan yang mapan untuk memperoleh, membiakkan, dan mengelola satwa liar pada masa Dinasti Shang,” ungkap Niu.
Penelitian multidisipliner pun dilakukan untuk menelusuri asal-usul hewan-hewan tersebut serta metode pemeliharaannya.
Niu menambahkan bahwa temuan ini memperlihatkan besarnya kontrol sumber daya dan kemampuan logistik Dinasti Shang.
Banyaknya lubang pengorbanan juga memperkuat bukti tentang kompleksitas ritual kerajaan pada masa itu, termasuk sistem persembahan hewan yang telah sangat berkembang.
Situs Reruntuhan Yin sendiri telah menjadi pusat arkeologi penting sejak penggalian dimulai pada tahun 1928.
Situs ini juga menghasilkan berbagai temuan budaya besar seperti benda-benda perunggu, tulang ramalan bertuliskan aksara kuno, serta peninggalan kerajaan lainnya.
- Penulis :
- Gerry Eka







