
Pantau - CEO AstraZeneca, Pascal Soriot, menyatakan bahwa China telah menjadi kontributor penting bagi inovasi ilmiah dan manufaktur canggih, serta kekuatan pendorong kemakmuran global, seiring dengan rencana investasi besar perusahaan farmasi tersebut di negara itu.
Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara di Beijing pada Jumat (30/1), sehari setelah AstraZeneca mengumumkan rencana investasi sebesar 15 miliar dolar AS di China hingga tahun 2030.
Investasi ini ditujukan untuk memperluas fasilitas produksi serta pusat penelitian dan pengembangan (litbang) obat-obatan di China.
"Dalam lima hingga enam tahun terakhir, China menjadi bagian fundamental dari inovasi di bidang farmasi global", ujarnya.
Soriot menambahkan bahwa pencapaian ilmiah China, kebijakan keterbukaan, dan komitmen terhadap kerja sama internasional menjadi alasan utama di balik kepercayaan dan investasi berkelanjutan AstraZeneca.
Bangun Pabrik Baru dan Ciptakan Ribuan Lapangan Kerja
Investasi baru AstraZeneca akan mencakup pembangunan dua pabrik tambahan yang fokus pada terapi sel dan therapy radioconjugate, metode terbaru dalam pengobatan kanker.
Langkah ini menandai babak baru bagi AstraZeneca di China dan memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan berkualitas tinggi di negara tersebut.
AstraZeneca saat ini telah memiliki pusat litbang di Beijing dan Shanghai serta fasilitas produksi di Beijing, Wuxi, Taizhou, dan Qingdao.
Dengan ekspansi ini, jumlah tenaga kerja terampil AstraZeneca di China akan meningkat menjadi lebih dari 20.000 orang.
Perusahaan juga memperkirakan penciptaan ribuan lapangan kerja tambahan dalam ekosistem perawatan kesehatan.
China merupakan pasar terbesar kedua bagi AstraZeneca dan pusat strategis untuk inovasi global, dengan jaringan distribusi produk ke lebih dari 70 negara.
Sejak memasuki pasar China pada tahun 1993, AstraZeneca telah memperkenalkan lebih dari 40 obat inovatif, mencakup terapi onkologi, penyakit pernapasan, penyakit langka, vaksin, dan imunologi.
Kolaborasi Inggris–China dan Potensi Sektor Strategis
Pada tahun 2024, AstraZeneca menginvestasikan 475 juta dolar AS di fasilitasnya di Wuxi, diikuti oleh komitmen senilai 2,5 miliar dolar AS di Beijing berdasarkan perjanjian lima tahun pada 2025.
Soriot menyatakan bahwa "Berinvestasi untuk pasien di China juga berarti berinvestasi dalam inovasi, produksi, dan ekspor obat-obatan tersebut ke seluruh dunia."
Ia juga merupakan bagian dari delegasi dalam kunjungan resmi Perdana Menteri Inggris Keir Starmer ke China, dan menegaskan optimismenya terhadap masa depan hubungan bilateral kedua negara.
Menurutnya, selain ilmu hayati, terdapat peluang kolaborasi besar lainnya antara Inggris dan China, termasuk di bidang kecerdasan buatan (AI), energi hijau, dan sektor teknologi lainnya.
"Kami ingin berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan China, dan kami juga menyambut persaingan, karena hal itu menghasilkan lebih banyak produk yang bermanfaat bagi pasien di seluruh dunia", kata Soriot.
- Penulis :
- Gerry Eka







