
Pantau - Jutaan orang turun ke jalan di seluruh Amerika Serikat dalam aksi nasional ketiga bertajuk No Kings untuk memprotes kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Demonstrasi berlangsung di 50 negara bagian Amerika Serikat serta di 16 negara lainnya, dengan lebih dari 3.000 aksi tercatat.
Aksi ini disebut sebagai salah satu demonstrasi paling terkoordinasi dalam sejarah AS.
Penyelenggara melibatkan berbagai organisasi seperti Indivisible, 50501, serikat pekerja, dan kelompok akar rumput.
Sebelumnya, aksi serupa pada Oktober 2025 diikuti sekitar 7 juta orang.
Aksi dipicu oleh menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Trump.
Isu yang diprotes meliputi konflik dengan Iran yang menewaskan 13 personel AS, kenaikan harga barang dan minyak, serta dampak tarif impor terhadap kebutuhan masyarakat.
Keluhan juga muncul terkait antrean panjang di bandara akibat kebuntuan anggaran.
Di Washington DC, sejumlah ibu dari Palestina menggelar aksi di Lincoln Memorial dengan membawa bendera Palestina.
"Sebagian besar rakyat Amerika tak tahu bahwa uang pajak kita digunakan untuk menyubsidi aksi kekerasan," ujar salah satu pengunjuk rasa.
"Hal ini terjadi ketika banyak rakyat Amerika tak dapat membayar tempat tinggal, susu, sekolah, ataupun layanan kesehatan. Harga-harga naik ketika kita berperang dalam perangnya Israel," lanjutnya.
Di beberapa lokasi terjadi aksi tandingan dari pendukung Trump, termasuk di West Palm Beach, Florida, di mana sekitar 50 pendukung berhadapan dengan peserta aksi No Kings.
Penyelenggara menegaskan aksi dilakukan tanpa kekerasan dengan melarang peserta membawa senjata dan memberikan pelatihan deeskalasi.
Pada aksi pertama Juni 2025 sempat terjadi insiden penembakan yang menyebabkan satu orang tewas dan satu lainnya terluka.
Aksi No Kings mencerminkan meningkatnya gelombang protes terhadap kebijakan pemerintah Amerika Serikat.
- Penulis :
- Gerry Eka







