Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Transformasi Digital di Sektor Keuangan Picu Kenaikan Kejahatan Siber, Pengguna Diminta Lebih Waspada

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Transformasi Digital di Sektor Keuangan Picu Kenaikan Kejahatan Siber, Pengguna Diminta Lebih Waspada
Foto: (Sumber: Modus penipuan online yang mengarahkan korban untuk masuk ke tautan palsu dan mengisi data pribadi. ANTARA/HO-Gopay.)

Pantau - Transformasi digital di sektor keuangan telah mengubah cara masyarakat Indonesia mengelola keuangan, membayar kebutuhan, dan mengakses layanan yang sebelumnya hanya tersedia secara fisik.

Dari perangkat ponsel, masyarakat kini bisa mentransfer uang, membayar tagihan, membeli tiket, hingga mengirim bantuan hanya dalam hitungan detik.

Kemudahan tersebut mendorong peningkatan inklusi keuangan, namun juga menimbulkan tantangan baru berupa kejahatan digital yang semakin canggih dan adaptif.

Salah satu modus yang marak terjadi adalah undangan pernikahan digital dalam format APK yang, setelah diunduh, dapat membobol dompet digital korban.

Modus Penipuan Digital yang Makin Canggih

Penipuan umumnya diawali dari pesan yang dikirim melalui nomor tak dikenal dengan isi yang sopan dan mencantumkan nama yang familiar.

Setelah file dibuka, ponsel menjadi lambat, muncul notifikasi transaksi mencurigakan, dan dalam hitungan menit, saldo korban hilang.

Istilah seperti scam, fraud, dan phishing kini telah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari masyarakat digital.

Modus lain yang semakin sering digunakan antara lain dengan mengaku sebagai institusi resmi, memanfaatkan momen emosional, atau menyamar sebagai promosi yang tampak menguntungkan.

Pelaku biasanya mendorong korban untuk menyerahkan data pribadi, PIN, atau kode OTP.

Di Indonesia, modus umum yang sering dilaporkan adalah pengiriman file berbahaya yang disamarkan sebagai undangan pernikahan digital, surat tilang, atau pemberitahuan pajak dari instansi pemerintah.

Begitu file dibuka, pelaku dapat mengambil alih perangkat korban, mencuri data pribadi, memantau aktivitas, atau mengakses akun keuangan secara diam-diam.

Ada pula modus menggunakan tautan palsu yang menyerupai situs resmi lembaga keuangan atau layanan digital populer, dengan tujuan agar korban mengisi data pribadi seperti nomor kartu, PIN, atau OTP.

Tampilan situs palsu dibuat sangat mirip dengan situs asli, sehingga pengguna yang tidak waspada mudah tertipu.

Perlunya Literasi Keamanan Digital di Tengah Transformasi

Tantangan terbesar bagi industri keuangan digital saat ini bukan hanya menciptakan sistem yang aman, tapi juga membangun kebiasaan aman di tingkat pengguna.

Meskipun sistem memiliki banyak lapisan pengamanan, bila pengguna dengan sengaja membagikan PIN atau OTP, maka seluruh sistem bisa ditembus.

Kesenjangan literasi digital masih menjadi masalah utama di masyarakat.

Banyak pengguna masih menganggap semua pesan digital aman, padahal setiap klik, unduhan, dan pengisian formulir daring membawa risiko besar.

Transformasi digital perlu dibarengi dengan literasi keamanan digital yang memadai agar masyarakat mampu melindungi dirinya sendiri.

Langkah-langkah pencegahan yang disarankan antara lain adalah tidak mengklik tautan atau file mencurigakan, menggunakan PIN yang kuat dan rutin menggantinya, serta tidak pernah memberikan kode OTP kepada siapa pun.

Tidak ada satu pun institusi resmi yang berhak meminta kode OTP dari pengguna.

Kesadaran akan keamanan digital juga perlu ditanamkan di lingkungan keluarga dan komunitas, mulai dari anak-anak, orang tua, hingga pengguna baru teknologi digital.

Percakapan ringan seperti di meja makan atau dalam grup keluarga mengenai pengalaman nyaris tertipu bisa lebih efektif dibandingkan imbauan formal.

Penyedia layanan digital juga memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan ekosistem yang aman, melalui lapisan pengamanan tambahan, mekanisme pengaduan yang mudah diakses, dan transparansi dalam penanganan kasus.

Head of Corporate Affairs GoPay, Audrey Progastama Petriny mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki program jaminan saldo kembali.

"Setiap kali seseorang memutuskan untuk tidak mengklik tautan yang meragukan, tidak mengunduh file yang mencurigakan, dan tidak membagikan kode rahasia kepada siapa pun, ia sedang mengambil peran aktif dalam menjaga ruang digital tetap aman," ungkapnya.

Program tersebut memungkinkan pengguna mengajukan klaim atas saldo yang hilang akibat pengambilalihan akun secara paksa (brute force) atau penggunaan akun tanpa izin karena kehilangan perangkat.

GoPay juga aktif melakukan edukasi kepada pengguna agar tidak membagikan PIN atau OTP.

Ke depan, tantangan keamanan digital akan makin kompleks seiring kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan, deepfake, dan otomatisasi pesan yang memungkinkan pembuatan komunikasi palsu secara meyakinkan.

Suara, wajah, dan identitas digital kini bisa dipalsukan secara presisi dan sulit dikenali oleh masyarakat awam.

Dalam kondisi seperti ini, sikap skeptis yang sehat menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki, sebanding dengan kemampuan teknis menggunakan aplikasi digital.

Keamanan digital bukan hanya soal sistem atau algoritma, melainkan juga soal keputusan-keputusan kecil yang diambil pengguna setiap hari.

Di situlah letak makna transformasi digital yang sebenarnya: membentuk masyarakat yang sadar, waspada, dan berdaya menghadapi risiko dunia digital.

Penulis :
Gerry Eka