
Pantau - Praktisi bahasa Ni Ketut Ayu Puspita Dewi menilai pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlu lebih ditekankan dalam pelatihan penjurubahasaan guna meningkatkan kualitas dan efisiensi pembelajaran.
Ni Ketut Ayu Puspita Dewi yang merupakan Ketua Divisi Internal Himpunan Penerjemah Indonesia sekaligus pendiri Bali Interpreting Academy menyampaikan hal tersebut dalam Konferensi Penerjemahan, Penjurubahasaan, dan Komunikasi China-ASEAN.
Kegiatan itu berlangsung pada 18 hingga 19 April 2026 di Xiamen University Malaysia.
"Menurut saya dari segi industri penjurubahasaan, AI saya kira dalam bidang pelatihannya bisa lebih ditekankan. Misalkan akademi akademi maupun program program pelatihan untuk interpreter di Indonesia itu bisa lebih merangkul AI," ujarnya.
Ia menjelaskan AI dapat dimanfaatkan sebagai asisten dalam latihan dan simulasi penerjemahan, serta untuk menganalisis kualitas hasil terjemahan.
Selain itu, konsep AI-based feedback dinilai dapat membantu meningkatkan kemampuan interpreter secara lebih terukur.
"Saya kira ini adalah salah satu take away saya, untuk membawa kembali dan menerapkan AI dalam sistem pengajaran interpreting," katanya.
Ia juga mendorong universitas di Indonesia untuk mengadopsi teknologi AI dalam pelatihan guna meningkatkan kompetensi calon interpreter.
Selain itu, ia mengusulkan pembentukan China ASEAN Certification of Competence serta China ASEAN Learning Community sebagai wadah peningkatan kapasitas dan kolaborasi.
Menurutnya, penelitian bahasa di kawasan ASEAN masih minim sehingga diperlukan lebih banyak riset khususnya di bidang penjurubahasaan.
Ia turut mengapresiasi pembentukan China ASEAN Interpreters and Translators Association yang dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat kerja sama lintas negara.
Asosiasi tersebut melibatkan lebih dari 10 lembaga dari berbagai negara, termasuk China, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam, dengan sekretariat di Xiamen University China.
Keberadaan asosiasi tersebut diharapkan dapat membantu negara yang kekurangan tenaga interpreter serta meningkatkan pemahaman antarbudaya.
Kolaborasi lintas negara ini juga dinilai mampu mendukung komunikasi internasional yang lebih efektif serta berdampak positif terhadap hubungan ekonomi dan diplomasi.
Peluncuran asosiasi tersebut menandai babak baru kerja sama di bidang penerjemahan dan penjurubahasaan di era AI.
- Penulis :
- Gerry Eka








