Pantau Flash
Survei: Sejak Pandemi, Aktivitas Anak Main Game Komputer Berkurang
Bayi 50 Hari Asal Cirebon Positif Korona Usai Diajak Orangtua ke Hajatan
Update COVID-19 di Indonesia: Jumlah Positif 30.514, Pasien Sembuh 9.907
KSP: Pemerintah Berhati-hati dan Tetap Waspada Memasuki Era New Normal
Meutya Hafid: Kepemimpinan Penerapan New Normal Tetap di Pemerintah Sipil

Harga Minyak Naik Ditopang Pasokan yang Ketat dan Permintaan

Harga Minyak Naik Ditopang Pasokan yang Ketat dan Permintaan ilustrasi Minyak Dunia. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Harga minyak naik pada akhir perdagangan Kamis 21 Mei 2020 waktu Amerika Serikat, memperpanjang kenaikan baru-baru ini didukung oleh penurunan persediaan AS. Pemangkasan pasokan ini dipimpin OPEC, dan pemulihan permintaan ketika pemerintah melonggarkan pembatasan virus Korona pada pergerakan manusia.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli naik 0,43 dolar AS atau 1,28 persen menjadi menetap pada 33,92 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Penyelesaian ini adalah yang tertinggi sejak 10 Maret, berdasarkan pada kontrak bulan depan, menurut Dow Jones Market Data.

Sementara itu, acuan global minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli naik 0,31 dolar AS atau 1,00 persen menjadi ditutup pada 36,06 dolar per barel di London ICE Futures Exchange.

Baca juga: Harga Minyak Kembali Naik, Awal Kejatuhan Ekonomi?


Kekhawatiran atas kelebihan pasokan mereda setelah pemotongan produksi yang dipimpin OPEC dan persediaan minyak mentah AS lebih rendah.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat untuk memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari untuk Mei dan Juni.

Sejauh ini pada Mei, OPEC+ telah memotong ekspor minyak sekitar enam juta barel per hari, menurut perusahaan yang melacak pengiriman, menunjukkan awal yang kuat dalam mematuhi kesepakatan. OPEC mengklaim pasar telah merespon dengan baik.

Persediaan minyak mentah AS turun lima juta barel selama pekan yang berakhir 15 Mei, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan pada Rabu (20/5/2020). Para analis yang disurvei oleh S&P Global Platts memperkirakan kenaikan 2,4 juta barel.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik, Pertamina Jaga Stabilitas Harga BBM


"Reli minyak mentah berjangka mulai mendekati level di mana penurunan produksi serpih AS akan mulai melambat dan mungkin berbalik ketika produsen berbiaya rendah berusaha untuk menghasilkan pendapatan," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois, seperti dikutip oleh Reuters.

Pada saat yang sama, ada bukti pulihnya penggunaan bahan bakar. Para investor juga menjadi berharap penuh atas pemulihan permintaan karena lebih banyak ekonomi mulai melonggarkan lockdown terkait virus COVID-19.



Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: