Pantau Flash
Jasa Marga Pastikan Wakil Jaksa Agung Terlibat Kecelakaan Tunggal
KKP Lumpuhkan Dua Kapal Berbendera Vietnam yang Curi Ikan di Laut Natuna
Ribuan Pekerja di DKI Jakarta Terkena PHK Akibat Pandemi Virus Korona
Kecelakaan di Tol Jagorawi, Wakil Jaksa Agung Dr Arminsyah Meninggal Dunia
Update COVID-19 di Indonesia 4 April: Korban Positif Tembus 2 Ribu Orang

Presiden Jokowi Ingin Ekonomi Digital Bisa Turunkan CAD

Presiden Jokowi Ingin Ekonomi Digital Bisa Turunkan CAD Presiden Jokowi harapkan ekonomi digital dapat menurunkan defisit neraca transaksi berjalan. (Foto: Antara)

Pantau.com - Presiden Joko Widodo berharap jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar di tengah pesatnya perkembangan industri digital. Lantas dirinya ingin ekonomi digital dapat menurunkan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

“Kita harapkan ekonomi digital selanjutnya bisa menurunkan defisit neraca perdagangan kita, menurunkan defisit transaksi berjalan yang kita miliki, harapan kita itu,” kata Presiden Jokowi, Kamis (27/2/2020).

Jokowi mencatat nilai ekonomi digital di Indonesia pada 2015 mencapai US$8 miliar atau sekitar Rp120 triliun. Angka ini tumbuh lebih dari 4 kali lipat pada tahun lalu menjadi US$40 miliar atau Rp560 triliun.

Baca juga: 3 Alasan Pelaku UKM Harus Beralih ke Dompet Digital

Pada 2025 Presiden Jokowi memprediksi nilai ekonomi digital di Indonesia akan tumbuh jauh lebih besar atau menjadi US$133 miliar. Selain itu Indonesia saat ini tercatat dalam daftar lima besar negara dengan perusahaan rintisan atau startup teraktif setelah Amerika Serikat, India, Inggris, dan Kanada. Hal itu dicapai dengan jumlah perusahaan rintisan sebanyak 2.193.

“Ada 1 decacorn, ada 4 unicorn, dan salah satu (pendirinya) saya jadikan Menteri,” tutur Jokowi.

Istilah decacorn diberikan kepada startup yang memiliki valuasi lebih dari US$10 miliar. Sementara itu unicorn adalah perusahaan rintisan dengan valuasi lebih dari USD1 miliar.

Berdasarkan CB Insight, Gojek yang didirikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim tergolong sebagai decacorn. Tokopedia, Ovo, Bukalapak, dan Traveloka menjadi perusahaan rintisan yang telah memiliki valuasi lebih dari USD1 miliar. Namun, bagi Jokowi,  itu semua belum cukup. Presiden menilai Indonesia memiliki potensi yang jauh lebih besar.

Baca juga: Pembayaran SPP Lewat GoPay Viral, Abuse of Power-kah Pak Nadiem?

Perusahaan rintisan di Indonesia dapat berkembang dengan bermodal jumlah penduduk sebanyak 267 juta jiwa. Pun penetrasi pasar internet setiap tahun masih terus tumbuh.

Selain diharapkan menjadi obat bagi defisit neraca transaksi berjalan, Jokowi menegaskan bahwa ekonomi digital harus memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat. Ekonomi digital harus menciptakan lapangan pekerjaan dan mendorong ekspor.

“Artinya, ekonomi digital kita harus mendorong produksi dalam negeri ini laku, terjual. Jangan barang impor yang dipasang di marketplace kita,” tuntasnya.

Tim Pantau
Editor
Tatang Adhiwidharta

Berita Terkait: