Pantau Flash
Perkuat Ekonomi Umat, Kemenko Perekonomian Kolaborasi dengan NU
DPRD Jember dengan Bupati Tidak Akur, La Nyalla Bakal Adukan ke Presiden
Erick Thohir Ganti Dirut PT Pembangunan Perumahan
Doni Monardo Sebut Akan Ada Standarisasi Harga Tes PCR
Gempa M 7,1 Maluku Utara Akibat Subduksi Lempeng Laut Filipina

Sri Mulyani Akan Lihat Perkembangan Rupiah dalam Satu Tahun Ini

Sri Mulyani Akan Lihat Perkembangan Rupiah dalam Satu Tahun Ini Menkeu, Sri Mulyani. (Foto: ANT)

Pantau.com - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, mengatakan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih belum memberikan dampak untuk penerimaan APBN, terutama dari sisi minyak dan gas (migas).

Sri Mulyani menuturkan penguatan rupiah tersebut baru terjadi dalam beberapa waktu terakhir, sehingga perkembangan dan pengaruhnya akan dilihat dalam setahun, tidak bisa hanya dilihat per hari.

“Ya kita masih akan lihat satu tahun ini perkembangannya dan pengaruhnya kepada APBN kan tidak dilihat per hari,” kata Sri Mulyani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Baca juga: Menkeu: Defisit APBN 2019 Rp353 Triliun dari Januari-Desember

Ia mengatakan pihaknya masih akan menghitung berdasarkan perkembangan dari perekonomian baik dari sisi dalam negeri maupun kondisi global untuk melihat dampak penguatan rupiah bagi ekonomi Tanah Air.

Menurut dia, faktor peningkatan penerimaan negara tidak hanya dari rendahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar saja, melainkan juga dari eksternal yaitu kelanjutan kesepakatan dagang antara AS dengan China.

“Biasa dinamika nilai tukar jadi kita akan terus menghitung berdasarkan perkembangan dari ekonomi dalam negeri dan global,” ujar Sri Mulyani.

Baca juga: Menkeu: Defisit APBN 'Offside' hingga November 2019 Rp368,9 Triliun

Selain itu, ia menyebutkan pemerintah juga masih terus menunggu terkait pemangkasan suku bunga global agar aliran modal asing atau capital inflow dapat masuk lebih banyak ke Indonesia.

“Kemudian suku bunga yang rendah secara global itu menyebabkan capital inflow,” katanya.

Tak hanya itu, ia menuturkan pemerintah juga mewaspadai defisit transaksi berjalan (CAD) yang masih melebar, sebab dengan adanya penguatan rupiah maka nilai ekspor akan lebih rendah daripada impor. “Kita juga masih waspada karena CAD kita masih ada,” ujar Sri Mulyani.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: