Pantau Flash
CEO Leipzig Bantah Soal Transfer Timo Werner ke Chelsea
Jubir Presiden Kazakhstan Positif COVID-19
Survei: Sejak Pandemi, Aktivitas Anak Main Game Komputer Berkurang
Bayi 50 Hari Asal Cirebon Positif Korona Usai Diajak Orangtua ke Hajatan
Update COVID-19 di Indonesia: Jumlah Positif 30.514, Pasien Sembuh 9.907

Kelompok HAM Serukan Boikot Global Terhadap Myanmar Jelang Sidang Genosida

Kelompok HAM Serukan Boikot Global Terhadap Myanmar Jelang Sidang Genosida Pengungsi Rohingya. (Foto: Reuters/Mohammad Ponir Hossain)

Pantau.com - Para aktivis hak asasi manusia yang mendukung minoritas Muslim Rohingya di Myanmar menyerukan boikot global terhadap negara tersebut sehari sebelum sidang genpsida dimulai di Pengadilan Internasional di Deen Haag pada Senin (9/12/2019).

Koalisi Rohingya Nerdeka mengatakan bahwa mereka memulai "Kampanye Boikot Myanmar" dengan 30 organisasi di 10 negara. Kampanye ini menyerukan perusahaan, investor asing, organisasi profesional dan budaya untuk memutuskan hubungan kelembagaan mereka dengan Myanmar.

Dilansir Reuters, boikot ini bertujuan untuk membawa tekanan ekonomi, budaya, diplomatik, dan politik pada pemerintah koalisi Myanmar Aung San Suu Kyi dan militer.

Para pengungsi di kamp-kamp Bangladesh mengatakan mereka berdoa untuk melihat keadilan yang diberikan. Seorang pria membacakan informasi persidangan dari sebuah suart kabar dengan lantang di depan pengungsi Rohingya.

Baca juga: Pengungsi Rohingya Pilih Bunuh Diri daripada Tak Dapat Hak di Myanmar

"Ketika Aung San Suu Kyi adalah ikon perdamaian, dan kami memiliki harapan besar bahwa segalanya akan berubah ketika dia berkuasa," ujar Nur Alam (65), yang mengaku putranya ditembak mati oleh tentara selama operasi penumpasan tersebut. "Kami berdoa untuknya, tetapi dia sekarang telah menjadi ikon genosida. Sangat malu padanya."

Di sisi lain, Momtaz Begum yang berusia 31 tahun meneteskan air mata ketika mengingat bagaimana tentara mengurungnya di rumahnya di negara bagian Rakhine utara dan membakar atap. Dia melarikan diri untuk menemukan ketiga putranya yang sudah mati dan putrinya dipukuli hingga berdarah, katanya.

"Tentara membunuh suamiku," katanya. “Mereka memperkosa saya dan membakar rumah saya, mereka menikam kepala anak perempuan saya yang berusia 6 tahun. Mengapa mereka membunuh orang tak bersalah kita, anak-anak kita? Mengapa mereka menyiksa dan memperkosa wanita kita? Kami menuntut keadilan."

Pemimpin Myanmar dan penerima hadial Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, tiba di Belanda pada Minggu kemarin untuk menghadiri sidang dengar pendapat setelah gugatan oleh Gambia terkait genosida di Myanmar pada November silam.

Suu Kyi terlihat tiba di bandara Schiphol Amsterdam, di mana ia disambut oleh duta besar untuk Belanda. Suu Kyi kemudian menuju ke Deen Hag, di mana Pengadilan Dunia berada. Bulan lalu, kantor resmi Suu Kyi mengatakan bahwa pemimpin itu akan berada di Den Haag untuk membela kepentingan nasional.

Gambia yang merupakan negara kecil di Afrika Barat dengan mayoritas Muslim mengajukan gugatan kepada Myanmar yang mayoritas beragama Buddha atas tuduhan melakukan genosida, kejahatan internasional paling serius terhadap minoritas Muslim Rohingya.

Baca juga: Bangladesh Bakal Pindahkan Rohingya ke Pulau Kosong yang Rentan Banjir

Sejumlah demonstrasi tercatat akan terjadi dalam beberapa hari mendatang di kota Belanda oleh kelompok-kelompok yang selamat dari Rohingya, serta oleg para pendukung pemerintah.

Selama sidang yang berlangsung tiga hari, tim hukum Gambia akan meminta panel beranggotakan 16 orang PBB di Pengadilan Keadilan Internasional untuk menerapkan "tindakan sementara" untuk melindungi Rohingya sebelum kasus ini dapat didengar secara penuh.

Lebih dari 730 ribu Rohingya melarikan diri dari Myanmar pada tahun 2017 setelah tindakan keras yang dimpin militer. PBB mengatakan kampanye itu dilakukan dengan niat genosida, dan termasuk pembunuhan massal serta pemerkosaan.

Pihak berwenang Myanmar membantah kesimpulan tersebut, dan menganggap operasi militer dilakukan sebagai tanggapan kontra terorisme yang sah terhadap serangan oleh militan Rohingya yang menewaskan 13 anggota pasukan keamanan.


Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - NPW

Berita Terkait: