Pantau Flash
Satu Tahun Pandemi di RI, Kasus Positif COVID-19 Sudah Mencapai 1.347.026
Menristek Sebut Harga Vaksin Merah Putih Sekitar Rp70 Ribuan
Proses Identifikasi Korban SJ-182 Resmi Ditutup, 3 Penumpang Belum Teridentifikasi
Jokowi Akhirnya Cabut Perpres Izin Investasi Miras
Genap Satu Tahun Pandemi, 2 Kasus Mutasi COVID-19 Inggris Ditemukan di Indonesia

Kepolisian Myanmar Bentrok dengan Puluhan Pendukung Biksu Radikal

Headline
Kepolisian Myanmar Bentrok dengan Puluhan Pendukung Biksu Radikal Polisi bentrok dengan biksu Buddha di Yangon, Myanmar, Sabtu (16/1/2021). (Foto: Antara/Reuters)

Pantau.com - Kepolisian Myanmar bentrok dengan puluhan pendukung biksu radikal, Ashin Wirathu, Sabtu (16/1/2021), saat mereka berunjuk rasa mendesak pengadilan segera menggelar sidang untuk pemimpin agama Buddha tersebut.

Wirathu menyerahkan diri ke kepolisian dua bulan lalu atas tuduhan penghasutan.

Baca juga: Yordania Kecam Israel atas Pelanggaran Baru Terhadap Masjid Al-Aqsha

Para demonstran, yang sebagian besar adalah biksu, berkumpul di luar Penjara Insein, Yangon, tempat Wirathu ditahan sejak November tahun lalu.

Kepolisian mengatakan mereka tidak berencana membubarkan massa, tetapi beberapa anggota sempat terprovokasi oleh aksi pengunjuk rasa. Kepolisian pun menangkap seorang demonstran.

"Kami berusaha bernegosiasi dan pria itu membalas dengan kata-kata kasar. Ia juga memulai perkelahian," kata kepala Kepolisian Insein, Tin Latt, saat dihubungi via telepon.

Unjuk rasa yang diikuti oleh 50 orang itu pun dibubarkan oleh polisi.

Wirathu dikenal sebagai biksu yang kerap menghasut umatnya untuk membenci Muslim, khususnya kelompok minoritas etnis Rohingya. Namun, ia juga dikenal kritis terhadap pemerintah serta Aung San Suu Kyi.

Wirathu diketahui mendukung militer Myanmar, yang punya pengaruh kuat. 

"Meskipun ia dengan gagah menyerahkan diri (ke kepolisian, red) agar dapat diadili, pengadilan tidak menggelar sidang apalagi menjatuhkan vonis pada dirinya," kata seorang biksu yang berunjuk rasa.

Biksu itu mengatakan seluruh tahanan, termasuk Wirathu, berhak untuk diadili di persidangan.

Baca juga: Kim Jong Un: Amerika Serikat Tetaplah Musuh Terbesar, Meski Berganti Presiden

Wirathu dituduh melanggar ketentuan yang melarang penghasutan atau upaya memicu kemarahan massa terhadap pemerintah. Ia menghadapi ancaman hukuman maksimal tiga tahun penjara.

Namun, Wirathu mengaku tidak bersalah. Ia menyerahkan diri ke kepolisian setelah melarikan diri selama satu tahun.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Gilang K. Candra Respaty