Pantau Flash
WP KPK Tolak Wacana Pembebasan Napi Koruptor Dampak Pandemi Korona
Penanganan COVID-19 di Jakarta Disebut Lebih Baik dari Jabar dan Banten
PSI pada Jokowi: Mudik Harus Dilarang, Kalau Imbauan Saja Tak Akan Efektif
Update COVID-19 3 April: 1.986 Kasus Positif, 134 Sembuh, 181 Meninggal
25 Anak Usaha Pertamina Akan Didivestasi dan Likuidasi

2,5 Juta Obat Ilegal Pengganti Narkoba Ditemukan di Jakarta Utara

2,5 Juta Obat Ilegal Pengganti Narkoba Ditemukan di Jakarta Utara Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus memperlihatkan ratusan botol dan kotak barang bukti obat obat-obatan ilegal dan tanpa izin edar saat jumpa pers di Mapolres Jakarta Utara, Jumat (21/2/2020) (ANTARA/Fauzi Lamboka)

Pantau.com - Kepolisian Resor (Polres) Jakarta Utara menyita sekitar 2,5 juta butir obat ilegal sebagai bahan pengganti narkotika dan obat/bahan berbahaya (narkoba).

"Obat ini memberikan efek halusinasi untuk penggunanya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus di Mapolres Metro Jakarta Utara, Jumat (21/2/2020).

Baca juga: Hasil Tes Rambut: Lucinta Luna Telah Konsumsi Ekstasi Sebulan

Yusri menjelaskan obat penenang itu terdiri dari dua merek dagang yakni Hexymer dan Trihexyphendidyl. Obat itu merupakan golongan obat keras dan tidak boleh diperjualbelikan bebas.

"Ini harus dengan resep dokter dan dokter pun memberikan resep ini tidak mudah," ujar Yusri.

Hal senada disampaikan Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara Yudi Dimyadi, bahwa jika dua jenis obat itu digunakan untuk menghilangkan gejala dari efek samping obat psikotropika dan gangguan jiwa.

Polisi mengamankan pemilik klinik, ZK (55) pada Selasa (18/2) bersama barang bukti 84 kotak berisikan 2.016.000 butir tablet Hexymer dengan komposisi dua miligram (mg) Trihexyphenidyl.

Baca juga: Lucinta Luna Ngaku Pakai Narkoba karena Depresi, Polisi: Alasan Klasik

Kemudian 375 dus berisikan 37.500 butir tablet Trihexyphenidyl dalam kemasan saset dengan komposisi dua mg.

Tersangka ZK dijerat pasal 197 juncto pasal 196 UU RI no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukumannya 15 tahun penjara dengan denda Rp1,5 miliar.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia