Pantau Flash
Luhut Bilang Kasus COVID-19 di DKI-Jateng-Jatim Mulai Turun dan Sudah Lewati Masa Puncak
Dewas Putuskan Ketua KPK Firli Tak Terbukti Langgar Etik soal Tes TWK
Muncul Seruan Aksi Tolak PPKM dari Jakarta hingga Pontianak 24 Juli, Polri Imbau Warga Tidak Terhasut
Polda Metro Jaya Layangkan Panggilan Jerinx Senin Pekan Depan
Jadi Episentrum Global COVID-19, Pemerintah Indonesia 'Disentil' WHO untuk Perketat dan Perluas PPKM

Kasus COVID-19 Naik Lagi, Indonesia Ditakutkan Jadi Episentrum Selanjutnya

Headline
Kasus COVID-19 Naik Lagi, Indonesia Ditakutkan Jadi Episentrum Selanjutnya Dengan angka kematian meningkat di Indonesia, petugas penggali kubur kewalahan. (Foto: Antara)

Pantau.comAisyah yang masih berusia 10 tahun harus kehilangan ibunya yang meninggal dunia karena COVID-19. Sebagai single parent, Rina Darmakusamah memilih untuk melakukan isolasi mandiri di rumah setelah positif mengidap virus, karena tidak ada orang lain yang bisa mengurus putrinya.

Tidak lama setelah ibunya tidur di ranjang, kondisi ibunya menurut Aisyah memburuk dengan demam tinggi. "Saya melihat ibu saya berbicara dengan bantal," kata Aisyah. "Saya terheran-heran mengapa dia melakukannya. Juga keringatnya mengucur deras." "Kemudian tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Saya kira dia tertidur."

"Setelah satu jam, dan saya berpikir ibu saya tidak pernah tidur selama itu, saya kemudian menggoyang tubuhnya, tetapi dia tidak bergerak sama sekali." Kematian ibunya menyebabkan Aisyah menjadi anak yatim.

Sehari setelah Rina meninggal, Aisyah juga positif terkena COVID-19 dan harus menjalani isolasi mandiri. "Sedih sekali hidup tanpa ibu," katanya, demikian dilansir dari ABC News, Minggu (20/6/2021). "Kata-kata terakhir yang diucapkan ibu saya adalah agar saya jadi anak yang baik dan tidak boleh nakal."

Ayahnya sudah lama meninggal dan kini Aisyah tinggal bersama keluarga yang bekerja di kantor pemerintahan daerah di Tangerang. Tragedi yang dialami Aisyah ini menunjukkan dampak pandemi yang dialami oleh anak-anak di Indonesia ketika banyak orang tua meninggal karena COVID-19.

Aisyah sebelumnya membantu ibunya berjualan pakaian untuk mendapatkan nafkah sehari-hari. Tapi sekarang ia tidak tahu bagaimana nasibnya di masa depan, di mana dia akan tinggal , atau apakah dia bisa melanjutkan sekolah.

Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman peningkatan kasus karena adanya virus corona varian Delta yang lebih mudah menular.

Baca juga: Angka Positif COVID-19 Meningkat Drastis, Beberapa Akses Menuju Garut Disekat

Diawali setelah liburan Lebaran

Mulai meningkatnya lagi kasus baru di Indonesia terjadi setelah jutaan orang tidak mengikuti imbauan untuk tidak mudik selama Lebaran. Hari Kamis (17/6), kasus baru tercatat 12.624 kasus, naik 100 persen hanya dalam waktu seminggu, ini adalah angka tertinggi sejak tanggal 30 Januari. Sekarang kasus keseluruhan di Indonesia sudah semakin mendekati dua juta, dengan sekitar 54 ribu kematian.

Namun dua penelitian terbaru, yang melakukan tes antibodi dan bukannya angka infeksi aktif, menunjukkan kasus di Indonesia sebenarnya mungkin beberapa kali lebih tinggi dari angka resmi.

Pihak berwenang mengkhawatirkan bagaimana keadaan masih akan terus memburuk, dengan varian Delta yang pertama kali muncul di India sekarang menjadi varian dominan di kawasan padat penduduk di pulau Jawa, termasuk di Jakarta, di sebagian Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Menurut dokter spesialis paru-paru Erlina Burhan, ruang perawatan intensif di Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta sekarang penuh, dan juga ruang gawat darurat sudah tidak bisa lagi menerima pasien baru.

Dia mengatakan beberapa dokter sudah berusaha mencari tempat tidur bagi sanak keluarga mereka sendiri. Pasokan tabung oksigen juga mulai menurun jumlahnya. Di sebuah rumah sakit di Jakarta lainnya, terjadi antrian mereka yang sakit di pintu masuk, sementara di dalam rumah sakit belasan orang sudah menanti.

Situasi di Kudus, Jawa Tengah bahkan lebih buruk lagi. Penyebaran varian Delta yang cepat telah menyebabkan penularan lokal dan rumah sakit di kawasan tersebut 90 persen penuh.

"Inilah kesalahan kita ramai-ramai. Pemerintah sudah habis-habisan minta supaya kita stay at home tidak mudik, tapi kemarin kita ramai-ramai, ya sekarang ini buahnya," kata Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan. 

Gubernur DKI Jaya Anies Baswedan sudah mengeluarkan peringatan bagi pembatasan lebih ketat bila situasi memburuk namun tidak menyebutkan adanya 'lockdown' total. Namun pembatasan ketat apapun tidak akan memperbaiki keadaan kecuali dilakukan di seluruh pulau Jawa, kata Dicky Budiman, epidemiolog dari Griffith University di Queensland.

"Tidak adanya gunanya bila hanya Jakarta melakukan lockdown, sementara daerah lain tidak melakukan langkah bersinergi untuk mencegah penyebaran COVID-19," katanya.

Baca juga: Pemkab Indramayu Bakal Sulap Wisma Haji Jadi Tempat Isolasi Pasien COVID-19 Jika RS Penuh

Upaya meningkatkan jumlah vaksinasi

Dengan terjadinya peningkatan kasus di seluruh Indonesia, pemerintah juga berusaha meningkatkan usaha vaksinasi guna mengurangi penyebaran kasus. Presiden Joko Widodo sudah mencanangkan untuk  mencapai target 1 juta vaksin sehari di akhir Juli.

Di Jakarta, warga yang berusia di atas 18 tahun sekarang bisa mendapatkan vaksin. Namun dengan pasok vaksin dari luar negeri yang masih bermasalah, usaha untuk mencapai angka 70 persen vaksinasi yaitu sekitar 181,5 juta orang di awal tahun depan menjadi tantangan.

Kekhawatiran soal tingkat efikasi vaksin Sinovac dari China dan juga dampak samping dari vaksin AstraZeneca membuat banyak warga Indonesia masih belum mau ikut program vaksinasi.

Pihak berwenang di salah satu kecamatan di Jawa Barat , misalnya, berusaha berbagai cara agar warga mau mendapatkan vaksinasi, khususnya bagi orang tua yang takut terkena dampak sampingnya. Mereka mendatangi rumah ke rumah menawarkan vaksin dan juga seekor ayam hidup bagi mereka yang mau divaksinasi.

Tim Pantau
Editor
Noor Pratiwi
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: