Pantau Flash
Upacara Tetap Digelar di Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2020
Presiden Jokowi Kaji Prioritas Usulan 245 Proyek Strategis Nasional Baru
Usai PSBB, Terbitlah Pusat Perbelanjaan Kota Malang
Indonesia Kecam Rencana Aneksasi Israel Terhadap Palestina
Welcome New Normal: Penumpang KRL Dilarang Bicara dan Telepon

Kata Dokter, Kecemasan Akibat Virus Korona Bukan Selalu Gangguan Mental

Headline
Kata Dokter, Kecemasan Akibat Virus Korona Bukan Selalu Gangguan Mental Ilustrasi korona. (Pixabay)

Pantau.com - Kecemasan akibat wabah virus korona penyebab COVID-19 tidak selalu merupakan masalah gangguan kesehatan mental sehingga perasaan yang muncul tersebut merupakan bagian dari adaptasi normal seseorang. Hal itu disampaikan oleh dokter spesialis kesehatan jiwa Dr. Jiemi Ardian, SpKJ.

“COVID-19 menimbulkan berbagai macam reaksi bersamaan dengan kemunculannya, karena banyak hal baru yang sebenarnya tidak pernah terpikirkan dan itu menimbulkan kecemasan tersendiri,” ujar Dr Jiemi Ardian yang juga Advisor Layanan Kesehatan Mental ibunda.id.

Menurut Dr. Jiemi masalah tersebut muncul karena terjadinya perubahan sistem secara tiba-tiba akibat merebaknya virus korona sehingga orang harus menyesuaikan secara mendadak terhadap perubahan pola, yakni dari kondisi normal menjadi kecemasan. "Kecemasan itu akibat ketidaktahuan dalam menghadapi sesuatu yang baru (virus korona)."

Baca juga: Terungkap! 40-90 Persen Partikel Virus Korona Bisa Menembus Masker Kain

Lebih lanjut, ia mengatakan kecemasan tersebut merupakan akibat dari isolasi sosial, kurangnya interaksi, gerakan fisik yang terbatas, serta pola stresor yang berubah.

“Jika emosi tersebut mengambil alih pikiran, perasaan dan perilaku hingga merasakan penderitaan dan ketidakmampuan melakukan fungsi keseharian, maka mungkin itu bisa menjadi tanda terjadi gangguan mental dan perlu mendapatkan bantuan,” ujarnya.

Dr. Jiemi menuturkan selain hal tersebut, penyebab gangguan mental sendiri selalu kompleks, merebaknya virus korona penyebab COVID-19 sendiri bisa menjadi pencetus bagi kondisi gangguan mental seseorang yang pernah mereda justru menimbulkan gangguan baru. "Tapi COVID-19 hanyalah salah satu faktor dari sekian banyak faktor lainnya."

Lebih lanjut Dr. Jiemi menambahkan terdapat beberapa faktor utama yang menyebabkan gangguan mental seseorang. Dimulai dari faktor biologi seperti gen, neurotransmitter, sistem syaraf, dan endokrin. Kemudian faktor psikologi seperti cara menghadapi stresor, gaya berpikir seseorang, dan kemampuannya dalam beradaptasi serta faktor sosial seperti sistem pendukung orang-orang dekat yang berada di sekitar.

“Kita memerlukan kewaspadaan sekaligus ketenangan untuk menjaga kesehatan jiwa pada saat wabah COVID-19 ini, untuk itu kita juga perlu melakukan hal-hal yang riil untuk menjaga kesehatan jiwa itu sendiri,” katanya.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Gangguan Psikosomatik di Tengah Pandemi COVID-19

Dilansir dari Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia tindakan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya, berbicara dengan orang terpercaya jika terjadi kecemasan yang berlebih, menjaga pola hidup sehat selama aktivitas di rumah, tidak merokok, minum alkohol atau narkoba serta memilih informasi yang akurat dan kredibel dari sumber yang terpercaya.

“Jika memang sudah terjadi gangguan dan membuat seseorang mengalami penderitaan dan disfungsi, maka konsultasi secara daring dengan psikolog sangat dianjurkan karena pada saat seperti ini mungkin mengurangi kontak adalah cara yang bijak,” kata Dr Jiemi.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: