Pantau Flash
Jokowi Akhirnya Cabut Perpres Izin Investasi Miras
Genap Satu Tahun Pandemi, 2 Kasus Mutasi COVID-19 Inggris Ditemukan di Indonesia
Bayern Munchen Berhasil Mendapatkan Bek Kiri Reading Omar Richards
Baku Tembak dengan TNI-Polri, 2 Teroris MIT Poso Tewas
Update COVID-19 RI: Kasus Positif Naik 6.680 dengan Total 1.341.314

Polisi Thailand Tuntut Dua Siswa SMA Usai Ikut Demonstrasi

Polisi Thailand Tuntut Dua Siswa SMA Usai Ikut Demonstrasi Para pelajar pro demokrasi Thailand menyalakan ponsel mereka saat mengikuti aksi. (Foto: Reuters/Jorge Silva via Antara)

Pantau.com - Dua pemimpin siswa sekolah menengah atas (SMA) Thailand akan dituntut karena bergabung dengan aksi protes pada Oktober yang dilarang pemerintah.

Tuntutan dilayangkan sehari setelah Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mengancam akan melakukan tindakan lebih keras terhadap pengunjuk rasa. Para siswa tersebut mengatakan, mereka telah dipanggil karena melanggar keputusan keadaan darurat dengan bergabung dalam demonstrasi 15 Oktober.

Dilansir Reuters, Jumat (20/11/2020), aksi protes dilakukan oleh puluhan ribu orang yang menentang larangan PM Prayuth terkait penghentian demonstrasi yang menuntut pengunduran dirinya dari jabatan serta soal reformasi monarki.

"Bahkan jika para pemimpin protes ditangkap, tidak ada cukup ruang di penjara karena ratusan lainnya lagi akan bangkit," kata Benjamaporn Nivas kepada Reuters melalui pesan singkat. Benjamaporn merupakan salah satu siswa berusia 15 tahun yang dituntut.

Baca juga: Perlawanan 'The Hunger Games' Meluas di Thailand, Apa yang Terjadi?

Kelompok Bad Student merencanakan aksi protes pada Sabtu mendatang. Benjamaporn mengatakan dia akan tetap hadir. Anggota kelompok protes lain yang menghadapi tuntutan adalah Lopanapat Wangpaisit, yang berusia 17 tahun.

Juru bicara polisi Thailand Yingyos Thepjumnong mengatakan, kedua siswa tersebut dipanggil untuk mengakui tuduhan dan akan diinterogasi di hadapan orang tua dan pengacara mereka.

Protes yang dipimpin kalangan pemuda dan siswa sejak Juli telah menjadi tantangan terbesar bagi pembangunan Thailand selama bertahun-tahun. Puluhan penangkapan serta upaya untuk memadamkannya sejauh ini malah membawa lebih banyak orang turun ke jalan.

Prayuth telah menolak permintaan pengunjuk rasa untuk mengundurkan diri. Ia menolak tuduhan mereka bahwa dia merekayasa hasil pemilihan umum tahun lalu untuk mempertahankan kekuasaan yang direbutnya melalui kudeta pada 2014.

Para pengunjuk rasa juga menyerukan perubahan pada konstitusi, yang dulu disusun oleh mantan pemimpin junta, serta menuntut agar kekuasaan Raja Maha Vajiralongkorn dibatasi. Mereka mengatakan monarki telah memungkinkan militer mendominasi di Thailand selama beberapa dekade.

Baca juga: Tak Ada yang Berani Menantang Raja Thailand, Kecuali Perempuan Muda Ini

Pihak Istana Kerajaan Thailand tidak memberikan komentar apa pun sejak aksi protes dimulai. Pada Kamis (19/11), Prayuth mengancam akan menggunakan semua undang-undang untuk mengadili pengunjuk rasa yang melanggar aturan.

Ancaman itu meningkatkan kekhawatiran di kalangan aktivis bahwa tindakan itu juga bisa menyangkut pelaksanaan keras undang-undang penghinaan kerajaan. Selama lebih dari dua tahun terakhir, tidak ada penuntutan yang terjadi terkait undang-undang itu.

Meskipun demonstrasi sebagian besar berlangsung damai, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air dalam menghadapi para pengunjuk rasa pada Selasa (17/11). Sedikitnya 55 orang terluka akibat gas air mata dan enam orang mengalami luka tembak.

Protes besar lainnya direncanakan dilakukan di Biro Properti Mahkota. Para pengunjuk rasa mengatakan mereka berusaha untuk merebut kembali kekayaan istana, yang diambil raja di bawah kendali pribadinya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: