Forgot Password Register

Akui Kecolongan Soal Kekerasan Rohingya, Berapa Orang Penerjemah Bahasa Myanmar di Facebook?

Ilustrasi Facebook. (Reuters/Regis Duvignau) Ilustrasi Facebook. (Reuters/Regis Duvignau)

Pantau.com - Facebook mengaku terlambat menangani ujaran kebencian di Myanmar dan kini berupaya mencegah terulangnya kejadian tersebut dengan mengembangkan teknologi indentifikasi konten bermasalah.

Sekitar 700.000 warga Rohingya terpaksa mengungsi ke negara tetangga Bangladesh setelah digelarnya operasi militer oleh pemerintah Myanmar di negara bagian Rakhine. PBB menyebut operasi militer itu sebagai pembersihan etnis.

"Kekerasan etnis di Myanmar memang sangat mengerikan dan kami terlalu lambat mencegah penyebaran informasi salah dan ujaran kebencian di Facebook," kata Facebook dalam siaran tertulisnya.

Baca juga: Menang Gugatan Soal 'Pria Idaman', Janda 3 Anak Ini Terima Ratusan Juta dari Agen Kencan

Pada awal tahun 2015, Facebook hanya mempunyai dua karyawan berbahasa Burma untuk memantau konten bermasalah.

Namun kini Facebook mengaku telah mempekerjakan lebih dari 60 "pakar bahasa Myanmar" sejak Juni dan berencana untuk menambahnya sampai sedikitnya 100 pada akhir tahun. Facebook juga mengaku telah menggunakan teknologi yang secara otomatis mendeteksi ujaran kebencian.

Namun upaya tersebut sepertinya belum bertemu hasil. Sampai akhir pekan lalu, Reuters masih menemukan lebih dari 1.000 postingan, komentar, gambar, dan video yang merendahkan dan menyerang kelompok Rohingya di Facebook.

Baca juga: Pelaku Teror di Gedung Parlemen Inggris Bernama Salih Khater

Beberapa postingan itu sudah beredar di Facebook selama enam tahun. Banyak postingan yang menyebut Rohingya sebagai anjing dan pemerkosa, serta meminta mereka untuk dihapus dari muka bumi.

Facebook hingga saat ini tidak mempunyai karyawan tetap di Myanmar. Mereka mengalih dayakan (outsource) fungsi pengawasan konten ujaran kebencian dalam sebuah operasi rahasia di Kuala Lumpur bernama "Project Honey Badger", demikian investigasi Reuters menunjukkan.

Mengigat sistem Facebook masih kesulitan membaca tulisan berbahasa Burma, mereka sangat bergantung dengan laporan dari para pengguna.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More