Pantau Flash
Baznas Raih Penghargaan sebagai Lembaga Zakat Pelayanan Terbaik
Kemensos Klaim Seluruh Lokalisasi di Pulau Jawa Sudah Ditutup
Diwarnai Blunder Yanto Basna, Indonesia Kalah 0-2 dari Malaysia
MRT Bayar Listrik Rp12 Miliar Setiap Bulan
Pelebaran Trotoar di Cikini Korbankan Jalur Sepeda

Balasan 'Manis' China: 16 Produk AS Bebas dari Kenaikan Tarif Baru

Headline
Balasan 'Manis' China: 16 Produk AS Bebas dari Kenaikan Tarif Baru Bendera Amerika Serikat dan China (Foto: Reuters/Aly Song)

Pantau.com - China mengatakan, pihaknya akan membebaskan sejumlah produk AS dari putaran terbaru pemberlakuan tarif balasan yang dipicu oleh perang dagang yang meningkat antara dua ekonomi terbesar di dunia itu.

Menteri Keuangan China merilis daftar 16 produk yang tidak akan dikenai tarif tambahan, termasuk udang, pelumas industri, mesin pemberantas kanker, minyak pelumas dan sejumlah bahan kimia lain. Pengecualian itu mulai diterapkan 17 September dan akan berlaku selama satu tahun.

Washington dan Beijing terlihat dalam serangkaian perang tarif selama lebih dari setahun, yang dipicu oleh tuntutan awal Presiden AS Donald Trump agar China mengubah praktik-praktik perdagangan, subsidi dan kekayaan propertinya.

Baca juga: 2 Perusahaan Tambang Batubara Gulung Tikar, Bukan di Indonesia

Putaran baru peningkatan tarif mulai berlaku 1 September, ketika Trump memberlakukan tarif 15 persen pada produk China senilai USD112 miliar, termasuk peralatan olahraga, pakaian olahraga, alat musik, dan mebel.

China kemudian membalasnya dengan menaikan tarif hingga 10 persen pada produk AS senilai USD75 miliar untuk produk AS yang diekspor ke China, termasuk, jagung, daging babi, marmer, dan ban sepeda.

Para perunding dari kedua negara akan bertemu bulan ini untuk mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk putaran baru pembicaraan tingkat tinggi yang akan diselenggarakan bulan depan di Washington. Putaran terakhir pembicaraan yang diselenggarakan Juli lalu berakhir tanpa kesepakatan berarti untuk mengakhiri kebuntuan.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: